109 Wakil Rakyat Lampung: Kunci Inspirasi Membangun dari Pusat Hingga Daerah

109 Wakil Rakyat Lampung: Kunci Inspirasi Membangun dari Pusat Hingga Daerah
Mahendra Utama (Eksponen 98) menjabarkan langkah strategis dorong kinerja legislator Lampung. Foto: Arsip pribadi/Kirka

Kirka – Nasib pembangunan Provinsi Lampung lima tahun ke depan berada di tangan 109 wakil rakyat.

Angka seratus sembilan merujuk pada 24 orang yang berkantor di Senayan, yakni 20 anggota DPR RI dan 4 anggota DPD RI, serta 85 anggota DPRD Provinsi Lampung.

Kehadiran para legislator diharapkan tidak sebatas menduduki kursi parlemen, melainkan melahirkan tindakan nyata bagi masyarakat.

Eksponen 98, Mahendra Utama, memaparkan resep khusus guna menghubungkan ego politik anggota dewan dengan kebanggaan kolektif warga daerah.

Menurut Mahendra, langkah pertama yang wajib diterapkan adalah menghadirkan rasa malu sekaligus bangga melalui pembuatan papan skor publik.

Publikasi mengenai frekuensi reses, tindak lanjut aspirasi, hingga jumlah Peraturan Daerah (Perda) menjadi tolok ukur kinerja para politisi.

“Ketika nama seorang legislator terpampang lantaran berhasil menggagas solusi masalah banjir atau perbaikan jalan rusak, gengsi positif otomatis lahir.

“Mereka akan berlomba meninggalkan warisan nyata bagi konstituennya,” ujar Mahendra mengutip filosofi Edmund Burke soal tanggung jawab wakil rakyat, Minggu, 23 Agustus 2026.

Pada poin kedua, dia menyoroti minimnya sinergi antara wakil rakyat di pusat dan daerah yang kerap berjalan sendiri-sendiri.

Mahendra mengusulkan pembentukan Rapat Koordinasi Gabungan (Rakorgab) secara berkala, minimal empat kali dalam setahun.

Fokus utama Rakorgab adalah memastikan 24 anggota di Senayan mampu mengamankan anggaran maupun regulasi tingkat pusat.

Sementara, 85 anggota DPRD merumuskan Perda pendukung tingkat provinsi.

Kegagalan satu pihak berpotensi mematikan proyek pembangunan secara keseluruhan.

Selain urusan birokrasi, empati wakil rakyat perlu terus diasah.

Dia menyarankan adanya tur khusus ke pelosok desa tanpa fasilitas listrik atau mengunjungi pasar-pasar tradisional yang mulai sepi.

Langkah turun ke lapangan bertujuan mempertemukan pembuat kebijakan dengan realitas hidup masyarakat bawah, termasuk para pemuda berprestasi yang terpaksa merantau.

“Seperti pesan Bung Hatta, Indonesia akan bercahaya karena lilin-lilin di desa. Lampung merupakan salah satu lilin penyala harapan.

“Inspirasi terbaik selalu lahir dari hati saat melihat langsung kesulitan rakyat, bukan sekadar membaca tumpukan kertas laporan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Mahendra menawarkan alasan politik yang realistis bagi politisi Senayan dan daerah.

Kinerja memuaskan, seperti jalan mulus dan penurunan angka kemiskinan, berbanding lurus dengan lonjakan perolehan suara pada pemilihan berikutnya.

Mengutip pesan Bung Karno, musuh terbesar para wakil rakyat sekarang adalah kemalasan serta kenyamanan pada status quo.

Dari seluruh lima langkah utamanya, Eksponen 98 ini menganjurkan perayaan atas setiap pencapaian sekecil apapun bentuknya.

Penghargaan internal seperti ‘Legislator Ter-Inovatif’ atau ‘Komisi Paling Responsif’ pasca rampungnya proyek irigasi atau penyaluran beasiswa, diyakini sanggup memacu persaingan sehat di ruang parlemen.

Seluruh kolaborasi bermuara pada satu target besar, yakni membawa Lampung masuk ke dalam daftar tiga besar kekuatan ekonomi di Pulau Sumatera pada akhir masa jabatan.

“Lewat target yang jelas, seluruh wakil rakyat bisa menjelma menjadi pendiri peradaban baru bagi daerah pemilihannya,” tandasnya.