Kirka – Keberhasilan Provinsi Lampung mencatatkan angka proyeksi produksi perikanan budidaya hingga 181.650 ton pada tahun 2025 bukanlah sebuah kebetulan semata.
Pencapaian tersebut merupakan hasil nyata dari pemerataan sekaligus optimalisasi sentra produksi yang tersebar di berbagai wilayah kabupaten.
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menilai pemetaan komoditas di setiap daerah membuat intervensi teknologi menjadi terarah dan tepat sasaran.
Menurutnya, strategi pengelolaan sumber daya perairan di daerah ini sudah berjalan pada jalur yang benar.
“Jika kita membedah datanya, sentra produksi sudah terbagi sangat baik.
“Udang difokuskan di Tulang Bawang dan Lampung Selatan, patin di Lampung Tengah, serta nila di Lampung Barat.
“Kemudian komoditas lele terpusat di Pringsewu dan ikan laut di Pesawaran,” ujar Mahendra, Sabtu, 25 Juli 2026.
Langkah pemerintah daerah tersebut, lanjut Mahendra, beriringan dengan kebijakan ekonomi biru yang digagas Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Sakti Wahyu Trenggono.
Kebijakan menempatkan perlindungan ekosistem perairan sebagai fondasi utama untuk membangun ketahanan pangan sekaligus energi secara nasional.
Sinergi antara pusat dan daerah juga semakin terlihat jelas dari program Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya KKP.
Saat ini, Dirjen Tb. Haeru Rahayu telah menetapkan lima komoditas unggulan yang dikembangkan secara masif, yakni udang, rumput laut, nila, kepiting, dan lobster.
Kelimanya dipilih karena terbukti memiliki daya serap pasar yang kuat serta daya saing tinggi di tingkat global.
“Lampung punya posisi yang sangat strategis.
“Dari lima komoditas unggulan KKP, hampir seluruhnya memiliki sentra pembiakan di wilayah provinsi kita,” jelas Mahendra.
Dampak positif dari tata kelola perikanan yang baik juga langsung dirasakan oleh masyarakat, khususnya para pelaku usaha tambak dan kolam perikanan.
Berdasarkan catatan nasional pada 2024, rata-rata pendapatan pembudidaya berada di angka Rp5,1 juta per bulan atau mengalami peningkatan sebesar 4,55 persen.
Melihat tren pertumbuhan yang ada, Mahendra optimistis Lampung mampu melangkah lebih jauh.
Apalagi saat ini pemerintah pusat sedang mengembangkan 210 titik Kampung Perikanan Budidaya (KPB) di seluruh penjuru Tanah Air.
“Provinsi Lampung sangat berpeluang besar untuk dijadikan lokasi percontohan KPB Modern.
“Syaratnya cukup dengan mempertahankan tren positif yang sudah ada dan terus mengadopsi teknologi budidaya berkelanjutan,” tuturnya.
Melalui konsistensi dari hulu hingga hilir, status provinsi di ujung selatan Pulau Sumatera sebagai lumbung ikan nasional diyakini akan semakin kokoh pada masa mendatang.






