Industri Tapioka Lampung Melaju: Ekspor Tiongkok dan Janji Hilirisasi 

Industri Tapioka Lampung Melaju: Ekspor Tiongkok dan Janji Hilirisasi 
Pemerhati Pembangunan Mahendra Utama, menyoroti momentum positif ekspor tapioka Lampung ke Tiongkok melalui transformasi ekosistem mentah menjadi produk industri berdaya saing. Foto: Arsip pribadi/Wiki/Kirka/I

Kirka – Keran ekspor produk olahan singkong asal Lampung makin deras mengalir ke pasar global.

Sepanjang awal tahun hingga April 2026, total pengiriman tepung tapioka menembus 10.000 ton.

Angka puncaknya terekam pada 5 Mei 2026 saat 3.330 ton komoditas senilai Rp 26 miliar berlayar menuju Tiongkok.

Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, memandang lonjakan permintaan luar negeri sebagai bukti ekosistem komoditas lokal mulai naik kelas.

Menurutnya, program hilirisasi yang dirancang pemerintah daerah membuahkan dampak ekonomi nyata, bukan sekadar pemanis di atas kertas.

“Bukan lagi sebatas seremonial pelepasan kontainer.

“Ekspor besar-besaran membuktikan olahan singkong kita punya daya saing tinggi di pasar internasional,” ujar Mahendra di Bandarlampung, Selasa, 12 Mei 2026.

Pencapaian selaras dengan target Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal.

Ia berulang kali menekankan komitmen merombak tata niaga singkong, mengubah komoditas mentah menjadi produk bernilai tambah.

Tujuannya sangat jelas, yakni menumbuhkan industri sekaligus menyerap hasil panen dengan harga pantas.

Langkah perbaikan tata niaga berlanjut pada penguatan riset.

Pemerintah Provinsi Lampung bersama Universitas Lampung (Unila) sedang merintis pembangunan National Cassava Center.

Pusat penelitian bertugas memproduksi bibit unggul berkadar aci tinggi.

Keputusan mendirikan fasilitas riset sangat beralasan, mengingat Bappenas telah menetapkan Lampung sebagai sentra singkong nasional.

Pada aspek hilir, diversifikasi olahan terus digenjot untuk mengurangi ketergantungan pada tapioka konvensional.

PTPN mulai mengembangkan bioetanol berbahan baku singkong, mematok target produktivitas 30 ton per hektare untuk wilayah Lampung dan Sumatera Selatan.

Di kawasan pedesaan, program Desaku Maju melatih kalangan petani memproduksi tepung mocaf (modified cassava flour).

Tepung modifikasi memiliki harga jual lebih mahal dan target pasar lebih luas.

Angin segar bagi kelompok petani juga berhembus lewat kebijakan pemerintah pusat melalui pembatasan impor tepung tapioka.

Pemangkasan pasokan luar negeri memaksa pabrik dalam negeri menyerap maksimal panen lokal. Sinergi antara proteksi dan hilirisasi membentuk iklim usaha yang jauh lebih sehat.

Meski sukses mencetak rekor penjualan ke luar negeri, Mahendra menyisipkan satu catatan penting.

Kesejahteraan pemilih lahan wajib menjadi prioritas utama.

Mengutip pandangan Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unila, Prof. Dr. Nairobi, Mahendra mengingatkan volume ekspor tinggi tidak otomatis menebalkan dompet petani bila relasi antara pabrik dan pekebun masih berat sebelah.

“Tugas pemerintah bukan cuma membuka pasar mancanegara. Peran paling berat adalah memastikan distribusi keuntungan merata dari hulu sampai hilir.

“Jangan sampai petani hanya jadi penonton di tengah euforia meraup miliaran rupiah,” tegas Mahendra.