Saya Orang Kampung: Jokowi Adalah Kita

Saya Orang Kampung: Jokowi Adalah Kita
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama. Foto: Arsip pribadi/Kirka/I

Kirka – Pernyataan Joko Widodo yang melabeli dirinya sekadar “orang kampung” dan “bukan siapa-siapa” memicu gelombang dukungan luas.

Berstatus sebagai mantan Presiden ke-7 Republik Indonesia, pengakuan pria asal Solo itu nyatanya masih bergema kuat di berbagai lapisan masyarakat.

Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menilai membeludaknya simpati publik usai lengsernya Jokowi dari tampuk kekuasaan bukanlah sebuah kebetulan.

Kalimat merendah sang mantan kepala negara dinilai berhasil membongkar dinding pembatas dengan rakyat jelata.

“Pilihan kata kampung beroperasi sebagai penanda kelas bawah paling otentik.

“Walau pernah sepuluh tahun memimpin, ia seolah menanggalkan seluruh sisa jubah kekuasaan untuk pulang kembali ke akar mula,” urai Mahendra, Rabu, 22 April 2026.

Mahendra membedah fenomena sosial yang sedang bergulir lewat kacamata sosiologi.

Mengacu pada pandangan teori populisme Ernesto Laclau dan psikolog Henri Tajfel, ia menyebut ikatan emosional seketika terbangun lantaran ada rasa kesamaan nasib.

Pengakuan sederhana Jokowi beranjak menjadi cermin raksasa yang merefleksikan wajah kolektif masyarakat menengah ke bawah.

Gelombang dukungan yang membuncah merupakan wujud antitesis murni dari kondisi sosial politik hari ini.

Publik dinilai sudah kepalang lelah melihat gaya pejabat maupun elite politik yang acap kali tampil pongah serta membatasi jarak dari denyut nadi kehidupan warga.

Ketika figur sekelas Jokowi menempatkan diri sejajar dengan warga biasa, masyarakat serentak merengkuhnya.

Mahendra lantas mengutip sebuah celetukan populer di jagat maya untuk menguatkan hasil analisisnya.

“Ada warga dunia maya berujar, Pak Jokowi bilang bukan siapa-siapa, tapi persis di titik itulah dia menjelma menjadi siapa-siapa.

“Bagi masyarakat, sosoknya masih mewakili wujud kata ‘kita’. Menjadi sebuah ironi sekaligus harapan yang tersisa,” paparnya.

Pada ujung pemaparannya, Mahendra menegaskan frasa “orang kampung” sama sekali tidak menyiratkan kelemahan atau keputusasaan.

Narasi yang terbangun murni sebuah deklarasi kekuatan kolektif orang-orang kecil.

“Jokowi adalah kita, kelompok yang mungkin sering kali direndahkan, namun menolak menyerah dan tetap terus berjuang,” pungkas Mahendra.