Kirka – Klaim Presiden ke-7 RI Joko Widodo yang merasa hanya “orang kampung” saat merespons Jusuf Kalla (JK) tak lantas ditelan mentah-mentah.
Eksponen 98, Mahendra Utama, memandang ucapan sang mantan kepala negara bukanlah celetukan biasa, melainkan manuver politik matang yang berlindung di balik topeng kesederhanaan.
Saat bertemu pewarta di Solo, Senin, 20 April 2026, Jokowi enggan meladeni JK secara frontal.
Dia lebih memilih mengulang narasi wong cilik yang membesarkan namanya.
Menurut Mahendra, langkah menghindari debat terbuka merupakan bukti kelihaian komunikasi yang sudah terbangun belasan tahun.
“Jokowi mempraktikkan jurus merendah untuk menang,” kata Mahendra, Selasa, 21 April 2026.
Tokoh pergerakan 98 itu menjelaskan, sejak awal menjabat, sosok mantan Gubernur DKI Jakarta jarang memamerkan citra elitis.
Kekuatannya justru bersumber dari posisi tawar yang seolah-olah lemah.
Gaya blusukan sampai pilihan kosakata sehari-hari sengaja dirancang agar pemimpin tetap terlihat sejajar dengan rakyat kebanyakan.
Merujuk pemikiran Cas Mudde soal populisme, klaim “bukan siapa-siapa” menempatkan sang mantan presiden berada di kubu rakyat murni, berhadapan langsung dengan barisan elite.
Kendati demikian, Mahendra membongkar sebuah paradoks besar.
Setelah sepuluh tahun memegang kendali pemerintahan, merajut dominasi jaringan, hingga memuluskan jalan politik keluarganya, tameng “orang kampung” lebih bergeser pada permainan persepsi ketimbang realita sesungguhnya.
Mengutip pandangan Eep Saefulloh Fatah, Mahendra mengingatkan publik soal perubahan karakter dari ‘Joko sang protagonis’ menjadi ‘Widodo sang antagonis’.
Kesederhanaan perlahan luntur terkikis realitas kekuasaan di lapangan.
Pemilihan respons pasif dipandang sangat cerdik.
Berdasarkan analisis pengamat Hendri Satrio, gaya komunikasi membumi amat pas dengan selera masyarakat Indonesia yang kerap menyukai sandiwara politik.
Sikap diam dan merendah sangat efektif meredam benturan sekaligus memanen simpati akar rumput.
Pada akhirnya, gaya kerakyatan sang tokoh telah berevolusi bentuk.
Bila dahulu kesederhanaan dipakai sebagai alat pendobrak gerbang Istana, sekarang fungsinya berubah wujud menjadi perisai pelindung rekam jejak.
“Ucapan memposisikan diri sebagai orang kecil menjadi senjata paling ampuh guna membingkai narasi, membungkam kritik, serta menjaga warisan politiknya,” ucap Mahendra menutup analisisnya.






