Menuju 2029: Partai Politik yang Tak Bertahan dan Siasat Rebut Kursi Lampung

Menuju 2029: Partai Politik yang Tak Bertahan dan Siasat Rebut Kursi Lampung
Foto deretan bendera partai politik dan spanduk Rebut Kursi Lampung terbentang. Foto: Ilustrasi/Arsip Wiki/Kirka/I

Kirka – Meski Pemilu 2029 masih beberapa tahun lagi, genderang pertarungan merebut kursi DPR RI, khususnya di daerah pemilihan (Dapil) Provinsi Lampung, rupanya sudah mulai ditabuh.

Sistem kepartaian di Indonesia diprediksi makin mengerucut pada kekuatan semi oligarkis yang bisa menyingkirkan sejumlah partai petahana dari Senayan.

Eksponen 98, Mahendra Utama, menyoroti tren politik nasional yang makin mengarah pada sistem multipartai sederhana terbatas.

Mengacu pada hasil Pemilu 2024 yang hanya meloloskan delapan partai ke DPR RI, tren penyusutan partai diprediksi akan terus berlanjut hingga 2029.

“Dengan ambang batas parlemen (parliamentary threshold) 4 persen yang kemungkinan dipertahankan atau bahkan dinaikkan, sistem ini akan semakin kejam bagi partai kecil.

“Partai baru hampir mustahil bisa menembus Senayan tanpa adanya dukungan kuat dari oligarki,” ungkap Mahendra Utama, Sabtu, 28 Maret 2026.

PAN dan Demokrat

Secara nasional, Mahendra memprediksi kontestasi 2029 paling rasional hanya akan menyisakan 7 hingga 9 partai di DPR RI.

Partai raksasa seperti PDIP, Golkar, dan Gerindra nyaris mustahil tersingkir.

Posisi PKB dan PKS juga dinilai relatif aman karena ditopang oleh basis pemilih ideologis yang solid.

Namun, alarm bahaya justru menyala untuk PAN dan Partai Demokrat.

Menurut Mahendra, PAN konsisten berada di ambang batas krisis tanpa adanya diferensiasi politik yang kuat di mata pemilih.

“Sementara itu, Demokrat terlalu bergantung pada figur AHY dan struktur lokal mereka di daerah yang tidak merata.

“Jika salah langkah, Demokrat bisa menyusul masuk zona bahaya. Sebaliknya, PSI punya peluang untuk naik, meski belum ada jaminan pasti bisa tembus,” jelasnya.

Pergeseran Peta Kekuatan di Lampung

Bagaimana dengan konstelasi di Provinsi Lampung?

Mahendra memproyeksikan dari total 20 kursi DPR RI yang diperebutkan (Dapil I dan II), dominasi Golkar, Gerindra, dan PDIP masih akan terasa.

Namun, pergeseran peta kekuatan mulai terlihat dengan naiknya suara PKB dan PKS secara perlahan, yang berpotensi menggerus jatah PAN dan Demokrat.

Mahendra menegaskan, faktor penentu kemenangan di Lampung pada 2029 bukanlah kampanye media sosial yang bising.

Realitas politik hari ini menunjukkan bahwa popularitas udara tidak bisa mengalahkan serangan darat yang terorganisir.

“Kuncinya ada pada tiga hal, jaringan kepala desa, pergerakan broker politik di tingkat kecamatan, serta kekuatan logistik dan akses kekuasaan,” tegas Mahendra.

Efek Wafatnya Tamanuri

Satu dinamika politik yang paling krusial di Lampung saat ini adalah efek dari wafatnya politisi senior Partai NasDem, Tamanuri.

Kehilangan figur sentral di Dapil II Lampung tersebut menciptakan kekosongan jaringan yang masif.

Kursi yang selama ini dikenal terjaga ketat oleh NasDem kini menjadi incaran terbuka partai-partai pesaing.

“Golkar pasti akan masuk lewat jaringan pragmatis mereka.

“Gerindra akan memaksimalkan efek kekuasaan dari pusat, sementara PKB dan PKS terus menggerakkan basis organik.

“NasDem harus bergerak cepat mencari figur pengganti yang sepadan. Jika terlambat, kursi ini akan berpindah tangan di 2029,” urai Mahendra.

Dari total 20 petahana (incumbent) asal Lampung saat ini, Mahendra memprediksi sekitar 3 hingga 5 kursi akan berganti pemilik pada pemilu mendatang.

Pemilu 2029 diproyeksikan tak lagi menjadi panggung debat ideologi.

Kontestasi ke depan adalah murni pertarungan tentang siapa yang paling menguasai jaringan lokal dan siapa yang paling dekat dengan pusat kekuasaan.

Kursi tanpa penjaga pasti akan direbut, dan partai tanpa figur lokal yang kuat bersiaplah untuk hilang.

Di Lampung, pertarungan itu sudah dimulai hari ini.