Kirka – Manuver politik Joko Widodo turun gunung menyambangi sejumlah daerah pasca pensiun menyita perhatian publik.
Memulai safari dari ujung selatan Sumatera hingga melompat ke Nusa Tenggara Timur (NTT), langkah bapak dari Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka memendam hitungan politik tingkat tinggi.
Eksponen 98, Mahendra Utama, membedah pola pergerakan sang mantan kepala negara.
Menurutnya, pemilihan lokasi lawatan sepanjang Juni hingga awal Agustus 2026 murni berangkat dari kalkulasi historis, kedekatan batin, sampai target ceruk elektoral demi membesarkan Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
“Dua titik awal lawatan bukan kebetulan belaka. Ada desain besar buat mengamankan barisan akar rumput menyongsong Pemilu 2029,” kata Mahendra dalam keterangannya di Bandarlampung, Selasa, 4 Agustus 2026.
Jokowi tercatat singgah di Bumi Ruwa Jurai pada 26-28 Juni lalu.
Mahendra menilai, wilayah ujung Sumatera punya rekam jejak tebal sebagai basis pemilih loyalis sejak Pilpres 2014 maupun 2019.
Bekas proyek infrastruktur nasional yang masif selama satu dekade terakhir membuat sentuhan pemerintahannya masih membekas kuat di ingatan warga lokal.
Kelekatan kultural makin tebal lewat penganugerahan gelar adat Baginda Pemuka Bangsa.
Fakta kelengkapan struktur kepengurusan PSI tingkat daerah sampai level desa membuat wilayah barat diposisikan bak laboratorium pemenangan ideal.
“Mesin partai sudah panas. Ditambah dorongan kuat dari tokoh masyarakat lokal, wajar kalau titik pertama jatuh ke sana,” ucapnya mengamini pernyataan Ketua DPP PSI Bestari Barus menyangkut ikatan emosional warga.
Rute perjalanan kemudian berlanjut ke timur Nusantara pada 31 Juli sampai 2 Agustus 2026.
Di mata Mahendra, manuver masuk ke NTT membawa ambisi panjang mendirikan ‘kandang gajah’ alias lumbung suara utama bagi partai berlambang mawar merah.
Rekam jejak blusukan lebih dari 20 kali ke kepulauan Flobamora sewaktu masih menjabat presiden menjadi modal berharga.
Penobatan status Sesepuh Raja-Raja Timor dinilai kian memuluskan penerimaan warga setempat.
Hal serupa juga diutarakan elite PSI Grace Natalie dan Christian Widodo menyoal tingginya kerinduan masyarakat timur terhadap figur idolanya.
“Penguasaan panggung kultural sudah dipegang penuh.
“Kalau wilayah barat difokuskan memanaskan mesin lama, lompatan ke timur murni upaya meluaskan dominasi baru,” ungkap Mahendra membeberkan analisisnya.
Rangkaian lawatan baru sebatas pemanasan. Masih ada puluhan provinsi lain menanti jadwal kunjungan.
“Seluruh pergerakan mengonfirmasi pesan terang benderang, daya pikat politik Jokowi belum pudar, menjadikan PSI sebagai lokomotif utama merawat warisan suara rakyat,” pungkas Mahendra.






