Kirka – Status Provinsi Lampung dalam peta ketahanan pangan nasional dipastikan naik kelas.
Berbekal lonjakan produksi padi hingga mencapai 3,2 juta ton pada 2025, ujung selatan Pulau Sumatera ini resmi beralih wujud dari sekadar daerah penyangga menjadi lumbung pangan utama.
Pemerhati Pembangunan Mahendra Utama menilai pencapaian gemilang bermula dari kepatuhan kepala daerah menjalankan instruksi langsung Presiden Prabowo Subianto.
Gubernur Rahmat Mirzani Djausal dipandang mampu menyelaraskan program kerjanya dengan arahan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan serta Menteri Pertanian Amran Sulaiman.
“Kerja sama pusat dan daerah bukan sekadar wacana.
“Perintah Presiden untuk membangun ketahanan pangan dari desa benar-benar dieksekusi di lapangan,” kata Mahendra, Senin, 20 April 2026.
Mahendra memaparkan, lompatan produksi terjadi karena pemerintah daerah bergerak berlandaskan tiga aturan baru terbitan Istana, yakni Peraturan Presiden Nomor 14 Tahun 2026 dan dua Instruksi Presiden Tahun 2026.
Ketiga regulasi menitikberatkan pada pembangunan fasilitas pasca panen serta tata kelola komoditas jagung.
Ia juga menggarisbawahi pesan Mentan Amran dan Menko Zulhas tentang pentingnya kerja sama saling menguntungkan antara pemerintah, pengusaha, maupun masyarakat petani.
Di tingkat provinsi, Gubernur Mirza merespons visi pusat lewat program bernama Desaku Maju.
Pendekatannya langsung menyentuh kebutuhan dasar petani, yakni, menyalurkan pupuk organik cair, membagikan mesin pengering gabah, hingga memperbaiki akses jalan desa guna memangkas ongkos angkut hasil panen.
Hasilnya terekam jelas melalui catatan Badan Pusat Statistik.
“Produksi padi melesat 15 persen menyentuh rekor 3,2 juta ton, sekaligus menempatkan Lampung ke dalam jajaran enam besar wilayah penghasil beras terbesar se-Indonesia,” jelas Mahendra.
Pemerintah provinsi, lanjutnya, bahkan sudah mematok target produksi lebih tinggi menuju 3,7 juta ton sepanjang 2026.
Kinerja sektor pertanian akhirnya berbuah apresiasi tingkat nasional.
Pada 16 April lalu, Gubernur Mirza menerima KWP Awards sebagai Tokoh Penggerak Ekonomi Agrikultur.
Saat menerima penghargaan, Mirza menegaskan bahwa fondasi ekonomi sesungguhnya bermula dari desa.
Keselarasan program antara Jakarta dan Bandarlampung terbukti manjur menekan biaya logistik serta mengurangi angka gabah terbuang pascapanen.
Mahendra meyakini, lewat pemimpin yang mau berkolaborasi, cita-cita kemandirian pangan nasional akan segera terwujud utuh.






