Internet Lemot di Lampung: Menguji Resiliensi Digital di Tengah Industrialisasi

Internet Lemot di Lampung: Menguji Resiliensi Digital di Tengah Industrialisasi
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama. Foto: Arsip pribadi/Kirka/I

Kirka – Keluhan warga terkait leletnya jaringan Telkomsel dan IndiHome di Bandarlampung sepanjang hari Rabu, 15 April 2026 kemarin mendapat kritikan.

Tersendatnya akses dunia maya tersebut dinilai bukan sebatas kendala teknis harian, melainkan teguran keras bagi daerah yang tengah mengebut sektor hilirisasi.

Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menegaskan bahwa keandalan jaringan siber merupakan fondasi utama yang tidak bisa ditawar.

Menurutnya, posisi ketersediaan sinyal internet sudah sejajar dengan pasokan listrik maupun kelancaran infrastruktur jalan beraspal.

“Bagi daerah yang sedang fokus mengolah hasil bumi menjadi barang jadi atau hilirisasi, kestabilan siber adalah nyawa.

“Posisinya sama pentingnya dengan aliran listrik atau mulusnya jalan raya,” tegas Mahendra di Bandarlampung, Kamis, 16 April 2026.

Terganggunya koneksi membuka celah kerentanan infrastruktur digital di daerah.

Merujuk pemikiran sosiolog Manuel Castells, Mahendra menjelaskan bahwa perputaran ekonomi modern sangat bergantung pada pertukaran informasi yang tak putus.

Ketika aplikasi pesan harian seperti WhatsApp lambat merespons, koordinasi bisnis otomatis tersendat.

Akibatnya, terjadi kepincangan informasi yang langsung memukul produktivitas pelaku usaha lokal.

Geografis dan Pemeliharaan

Merosotnya kualitas sinyal tersebut diduga kuat imbas pemeliharaan kabel laut atau masalah transmisi antar wilayah.

Situasi tersebut sejalan dengan fakta yang kerap diutarakan Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), Muhammad Arif.

Pemerataan sinyal di luar Pulau Jawa diakui masih bergelut dengan tantangan bentang alam serta jadwal perbaikan perangkat yang belum sepenuhnya sinkron.

Padahal, Pemerintah Provinsi Lampung sedang berupaya keras mendongkrak kesejahteraan petani serta pertumbuhan ekonomi daerah (PDRB) lewat pemanfaatan teknologi.

Ketergantungan pada internet yang stabil menjadi syarat mutlak.

“Program hilirisasi sebesar apa pun, kalau tidak didukung internet mumpuni, ibarat mesin yang jalan tanpa pelumas. Pasti macet,” tambah sosok Eksponen 98 itu.

Audit

Ke depan, Mahendra mendorong pemerintah daerah bersama pihak penyedia layanan internet (provider) untuk melakukan audit jaringan secara berkala.

Transparansi mengenai jadwal perbaikan alat juga harus selalu diumumkan terbuka kepada publik agar masyarakat bisa mengantisipasi.

Pembangunan fisik bangunan maupun jalan tol yang masif, tuturnya, wajib berbarengan dengan ketahanan dunia maya.

Jika diabaikan, target transformasi ekonomi Lampung menuju tahun 2029 bakal tersandung masalah lawas.

“Era digital menuntut kecepatan cahaya. Kita tidak bisa lagi menoleransi koneksi yang merayap seperti siput,” pungkasnya.