Strategi Jitu Menyelamatkan Lada Lampung dari Serangan Mati Layu

Strategi Jitu Menyelamatkan Lada Lampung dari Serangan Mati Layu
Mahendra Utama, Pemerhati Pembangunan, mengingatkan pentingnya kolaborasi dan inovasi riset untuk mengatasi ancaman gagal panen lada di Lampung. Foto: Arsip pribadi/Kirka/I

Kirka – Kejayaan lada hitam di Provinsi Lampung kini tengah menghadapi ujian berat akibat meluasnya serangan penyakit Busuk Pangkal Batang (BPB) atau yang lebih dikenal oleh petani sebagai penyakit mati layu.

Menyikapi kondisi kritis ini, Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menegaskan bahwa pendekatan konvensional tak lagi cukup untuk menyelamatkan komoditas unggulan Bumi Ruwa Jurai tersebut.

Menurut Mahendra, bertani lada di era modern menuntut pergeseran paradigma.

Petani tidak bisa lagi sekadar mengandalkan kebiasaan lama atau pengalaman turun-temurun tanpa campur tangan sains.

“Mengacu pada Teori Difusi Inovasi dari Rogers, kunci perubahan itu sebenarnya ada pada kemauan petani mengadopsi teknologi baru.

“Kita butuh pendekatan ilmiah yang terpadu di lapangan,” ujar Mahendra Utama di Bandarlampung, Rabu, 3 Juni 2026.

Berbasis Inovasi

Sebagai langkah konkret, Mahendra merujuk pada sejumlah rekomendasi teknis dari Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) yang mutlak diterapkan oleh para pekebun.

Langkah pertama dan paling mendasar adalah transisi penggunaan bibit.

Mahendra menyarankan agar petani mulai beralih menggunakan varietas yang secara genetik lebih kebal terhadap serangan patogen.

“Varietas seperti Natar 1 dan Lampung Daun Lebar sejauh ini menunjukkan tingkat ketahanan yang jauh lebih baik terhadap penyakit mati layu dibandingkan varietas biasa,” jelasnya.

Selain pemilihan bibit, inovasi dalam teknik budidaya juga harus ditingkatkan.

Ia secara khusus menyoroti pentingnya adopsi teknik sambung lada, yakni memanfaatkan batang bawah dari spesies Piper colubrinum yang secara alamiah tahan terhadap infeksi Phytophthora, jamur utama penyebab penyakit mematikan ini.

Ramah Lingkungan

Di samping aspek varietas, modifikasi lingkungan kebun tak kalah penting.

Sistem drainase yang buruk sering kali menjadi inkubator sempurna bagi patogen.

Oleh karena itu, pembuatan guludan tinggi di area tanam serta sanitasi kebun yang ketat menjadi syarat wajib yang tak bisa ditawar.

Untuk menekan populasi jamur perusak di dalam tanah, Mahendra mendorong aplikasi agens hayati seperti Trichoderma harzianum.

Langkah ramah lingkungan tersebut sangat efektif tanpa merusak ekosistem tanah jangka panjang.

Pandangan ini pun sejalan dengan pernyataan Peneliti Penyakit Tanaman Balittro, Dr. Ir. Handoko.

“Pengendalian hayati adalah solusi jangka panjang yang paling aman untuk menjaga keberlanjutan ekosistem kebun lada,” kata Handoko, belum lama ini.

 Kebijakan Afirmatif

Meski teknologi dan inovasi sudah tersedia, Mahendra mengingatkan bahwa beban ini tidak bisa dipikul oleh petani sendirian.

Ia mendesak adanya intervensi nyata dari pemerintah daerah maupun pusat melalui kebijakan yang memihak (afirmatif).

“Pemerintah harus hadir sebagai fasilitator.

“Kita sangat membutuhkan subsidi bibit unggul sambung, pendampingan yang intensif dan berkelanjutan dari penyuluh, hingga skema asuransi pertanian guna melindungi petani dari ancaman kebangkrutan akibat wabah gagal panen,” papar Mahendra.

Lebih dari itu, ia mendorong agar Dana Alokasi Khusus (DAK) yang diperuntukkan bagi rehabilitasi kebun lada segera digulirkan.

Sinergi lintas sektor antara pemerintah, perguruan tinggi, dan pihak swasta dinilai vital guna mempercepat transfer teknologi hingga ke akar rumput.

Upaya memulihkan muruah komoditas ekspor, tegas Mahendra, menuntut aksi kolektif yang nyata.

Petani selaku ujung tombak produksi tidak bisa lagi dibiarkan berjuang sendirian melawan wabah di kebun mereka.

Harus ada pembagian porsi yang jelas, birokrasi membuka akses dan kebijakan, sementara lembaga riset memastikan transfer inovasi mitigasi benar-benar sampai ke tangan pekebun.

“Kita harus realistis melihat kondisi lapangan.

“Tantangannya sekarang bukan lagi bermimpi memusnahkan penyakit itu seratus persen, tapi bagaimana kita beradaptasi dan cerdas mengendalikannya agar panen tetap optimal,” tegasnya.

Mahendra pun meyakini, asalkan cetak biru penanganan terpadu dieksekusi secara disiplin, kebangkitan lada Lampung di pasar global hanya tinggal menunggu waktu.