Kirka – Puisi Lampung ke Tajur Halang: Roadtrip Sunyi di Kaki Gunung Salak pada dasarnya menceritakan sebuah perjalanan fisik sekaligus perjalanan batin seorang kepala keluarga.
Pada bagian awal, penulis mengisahkan rute roadtrip yang dimulai dari Bandarlampung pada hari Jumat.
Perjalanan ini memiliki titik singgah yang sangat emosional di Margonda, Depok, untuk menjemput dan melepas rindu dengan sang buah hati.
Setelah satu malam beristirahat, perjalanan dilanjutkan pada Sabtu pagi melintasi Tol Jagorawi dan hiruk-pikuk Kota Bogor, perlahan menanjak menuju destinasi akhir yang sepi di Tajur Halang.
Lebih dari sekadar catatan perjalanan, puisi ini menonjolkan pencarian ketenangan jiwa dan wujud syukur yang mendalam.
Penulis secara sadar menghindari lokasi wisata arus utama yang bising seperti Puncak atau Cisarua, dan lebih memilih jejak sunyi di kaki Gunung Salak pada ketinggian 688 meter di atas permukaan laut.
Puncak emosi puisi ini hadir saat penulis berada di Moya Vila, memandangi kemegahan Gunung Salak sambil ditemani secangkir minuman hangat bersama istri dan anaknya.
Segala letih luruh seketika, berganti dengan doa dan rasa terima kasih kepada Tuhan atas nikmat hidup, keluarga, serta sebait salam hormat yang puitis untuk tanah leluhurnya di Lampung.
Perjalanan ini menjadi sebuah pelarian sejenak yang menyembuhkan lara dan mendatangkan damai.
Lampung ke Tajur Halang: Roadtrip Sunyi di Kaki Gunung Salak
Karya: Mahendra Utama
Dari Bandar Lampung jua kami berpilin,
Jumat teduh menempuh jalan panjang,
Margonda ramai, jumpa buah hati di Depok,
Peluk lepas rindu dalam satu malam tenang,
Esok pagi, roda kembali berdentang.
Sabtu pukul sepuluh mentari mulai hangat,
Tinggalkan Margonda, melesat di Jagorawi,
Menembus kota Bogor yang sibuk dan penat,
Lalu menanjak pelan di jalan yang berliku sepi,
Menuju Tajur Halang, keheningan hakiki.
Kupilih bukan riuhnya Puncak atau Cisarua,
Tapi jejak sunyi di kaki Gunung Salak yang tua,
Enam ratus delapan puluh delapan meter jelang mega,
Udara sejuk mengusap sukma lara,
Inilah damai yang lama kucari rasanya.
Moya Vila menyambut pandang nan lapang,
Gunung Salak membiru, gagah penuh tenang,
Secangkir hangat bersama istri dan anak tersayang,
Batin luruh, letih jiwa mendadak hilang,
Hanya syukur dalam dada yang riang berenang.
Terima kasih Ya Allah atas napas dan waktu,
Atas rezeki memeluk keluarga di pucuk yang teduh,
Salam hormat pada tanah Lappung, izin Iyai Mirza yang teguh,
Perjalanan singkat ini jadi doa yang utuh,
Bersama dua cinta, di bawah langit Salak yang teduh.
Tajur Halang, Minggu 19 April 2026






