Kirka – Estafet kepemimpinan Provinsi Lampung dari era Arinal Djunaidi ke Rahmat Mirzani Djausal turut membawa fenomena menarik dalam kebudayaan populer lokal.
Salah satu yang paling menyita perhatian adalah reaktualisasi lagu daerah “Payu Kidah” yang kini dibawakan secara apik oleh Batin Wulan (Purnama Wulan Sari).
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menilai kehadiran versi terbaru dari lagu ini bukan sekadar karya seni biasa, melainkan sebuah instrumen komunikasi sosial yang kuat.
“Dalam lanskap politik dan budaya Lampung, lagu sering kali menjadi medium penyampai pesan persatuan.
“Jika sebelumnya Payu Kidah identik dengan Riana Sari Arinal, kini Batin Wulan mengambil peran sentral untuk menghidupkan kembali ruh Ayo Kita bagi seluruh elemen masyarakat Bumi Ruwa Jurai,” ujar Mahendra, Senin, 4 Mei 2026.
Mahendra menjelaskan, transformasi Payu Kidah versi Batin Wulan yang diproduseri oleh Bagus Aviv dan Octavian Aditya merupakan langkah cultural rebranding yang cerdas.
Lagu tersebut berhasil digeser dari kesan instrumen protokoler menjadi sebuah karya pop etnik kontemporer yang segar.
Menurut eksponen 98 ini, langkah tersebut sangat selaras dengan kebutuhan zaman. Simbol-simbol lama perlu diberi napas baru agar relevan dengan audiens modern.
“Batin Wulan sangat menyadari bahwa untuk menyatukan masyarakat di era digital saat ini, pendekatan formal saja tidak cukup.
“Diperlukan sentuhan seni yang relatable dan mudah diterima oleh berbagai kalangan di platform digital,” jelasnya.
Lebih jauh, Mahendra menyoroti kekuatan lirik Payu Kidah yang memuat seruan kolaborasi secara mendalam.
Ia menilai Batin Wulan sukses menggunakan narasi sosok Ibunda untuk merangkul dan menjembatani dua identitas budaya besar di Lampung, yakni masyarakat Pesisir dan Pepadun.
Dari perspektif sosiologi pembangunan, Mahendra memandang langkah budaya tersebut sebagai upaya taktis untuk memperkuat social capital atau modal sosial masyarakat daerah.
“Mengutip Francis Fukuyama, trust atau kepercayaan adalah komponen paling krusial dalam kemajuan sebuah daerah.
“Melalui lagu, Batin Wulan sedang menanamkan kepercayaan kolektif bahwa pembangunan Lampung ke depan harus dilakukan secara guyub dan inklusif,” tegasnya.
Sebagai pemerhati yang kerap menyoroti hilirisasi sektor industri dan pertanian lokal, Mahendra mengingatkan bahwa kekayaan alam Lampung mulai dari kopi, lada, hingga komoditas unggulan lainnya, hanya akan bermuara pada kesejahteraan jika dikelola dengan iklim sosial yang kondusif.
Melalui pesannya, Mahendra mengajak setiap individu dan pemangku kepentingan untuk mulai melepaskan ego sektoral demi kemajuan bersama.
“Pesan dari Payu Kidah versi terbaru ini sangat jelas: Lampung masa depan adalah Lampung yang harmonis.
“Seni telah menjadi jembatan yang indah antara arah kebijakan pembangunan dan denyut nadi rakyatnya.
“Kini saatnya kita bersatu, karena kejayaan daerah hanya bisa dicapai jika kita bergerak bersama,” pungkasnya.






