Kirka – Gaya diplomasi lugas tanpa kompromi yang kerap diperagakan Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, memantik perhatian publik tanah air.
Pemerhati Pembangunan sekaligus Eksponen 98, Mahendra Utama, menilai ketegasan sang menteri merupakan cerminan nyata dari keberanian merumuskan kerja sama antarnegara yang benar-benar sejajar.
Mahendra membedah rekam jejak pria kelahiran Beijing, Oktober 1953 tersebut.
Baginya, pencapaian Wang di panggung global berakar pada proses panjang penuh tantangan.
Sebelum malang melintang sebagai diplomat kelas dunia, tokoh beretnis Han itu rupanya pernah menghabiskan masa mudanya sebagai pekerja konstruksi di Heilongjiang pada kurun waktu 1969 hingga 1977.
Perjuangan kerasnya terbayar tuntas. Lulusan Jurusan Bahasa Jepang Beijing Second Foreign Languages Institute dan peraih gelar Master Ekonomi tersebut baru menjejakkan kaki ke kementerian pada usia 29 tahun.
Menariknya, Wang hanya butuh waktu 19 tahun untuk mendobrak sejarah sebagai Wakil Menteri Luar Negeri termuda pada 2001 silam.
Sekarang, figur yang telah bergabung dengan Partai Komunis China sejak Mei 1981 tersebut memegang kendali penuh atas arah kebijakan luar negeri negaranya.
Posisinya sangat mentereng, ia menjabat sebagai anggota Politbiro, Direktur Kantor Komisi Pusat Urusan Luar Negeri, sekaligus Menteri Luar Negeri.
Di tengah memanasnya suhu perpolitikan dunia, ia dikenal luas sebagai pelopor gaya wolf warrior, sebuah pendekatan diplomasi pertahanan gigih terhadap kubu mana pun yang berani mengganggu garis batas kedaulatan Tiongkok.
Sikap tegas itu terekam gamblang lewat pidatonya di forum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 2025 lalu.
Sang menteri secara lantang mengingatkan komunitas global bahwa perdamaian sejatinya masih bisa diraih, namun mengandalkan unjuk kekuatan militer semata tidak akan pernah mewujudkan ketenteraman abadi.
Setahun sebelumnya, peringatan tajam juga dilontarkan secara terbuka kepada Amerika Serikat.
Washington diminta berhenti memainkan kebijakan dua wajah, yakni terus-menerus menekan Beijing di satu sisi, tetapi di saat bersamaan merengek meminta bantuan kerja sama.
Menurut Mahendra, rentetan manuver sang diplomat sangat sejalan dengan pandangan analis internasional Rorry Daniels.
Tiongkok sedang mencari kestabilan arah di tengah situasi dunia yang serba tidak pasti.
Pendekatan luar negeri mereka bertumpu pada perpaduan cerdas, mempertahankan kepentingan nasional sekuat tenaga, sambil terus merangkul banyak negara demi membangun tatanan dunia baru yang tidak dikuasai satu kekuatan tunggal.
Pemikiran serta langkah berani Wang rupanya meninggalkan kesan mendalam.
Mahendra mengaku sangat mengagumi kiprahnya karena memberikan perspektif segar, khususnya bagi langkah negara-negara berkembang.
“Ketegasannya sangat menginspirasi cara pandang kita tentang bagaimana membangun kolaborasi sosial, ekonomi, serta politik kawasan yang benar-benar berlandaskan kesetaraan,” pungkas Mahendra, Jumat, 17 April 2026.






