Kirka – Puisi karya Mahendra Utama ini menceritakan tentang kelumpuhan aktivitas penerbangan di Bandara Radin Inten II, Lampung, yang berlatar pada tanggal 5 Mei 2026.
Mahendra secara deskriptif menggambarkan suasana bandara yang mendadak sepi, dingin, dan penuh ketidakpastian.
Papan jadwal penerbangan yang kosong serta ketiadaan pesawat yang biasa beroperasi, seperti Lion Air dan Super Air Jet, memaksa para penumpang untuk menahan harapan mereka di ruang tunggu.
Akibatnya, masyarakat Lampung yang biasanya dapat mencapai Jakarta hanya dalam waktu satu jam harus menempuh jalan memutar menggunakan jalur laut via penyeberangan kapal ferry Bakauheni – Merak yang memakan waktu jauh lebih lama.
Pada lapisan makna yang lebih dalam, puisi ini menyoroti betapa pentingnya peran transportasi udara bagi mobilitas dan kehidupan masyarakat modern.
Mahendra menegaskan bahwa penerbangan bukan lagi sebuah kemewahan, melainkan nadi kehidupan dan kebutuhan dasar.
Terhentinya operasional bandara berdampak langsung pada terhambatnya berbagai aspek penting kehidupan, urusan bisnis yang tertunda, keluarga yang tak bisa segera bertemu, hingga lambatnya penanganan medis darurat menuju rumah sakit rujukan di Jakarta.
Melalui puisi ini, Mahendra menyampaikan rasa kekecewaan penumpang sekaligus menyuarakan harapan agar jalur udara segera pulih demi menyambung kembali denyut aktivitas masyarakat.
Radin Inten II yang Sunyi
Karya: Mahendra Utama
Pagi ini, 5 Mei 2026, bandara terasa lain
Kursi-kursi panjang menahan dingin yang tak biasa
Papan jadwal berkedip kosong tanpa nama
Lion Air dan Super Air Jet tak lagi menari di angkasa
Suasana sunyi merambat di ruang tunggu yang biasa ramai
Koper-koper terdiam, harapan tertahan di pelupuk mata
Anak-anak bertanya mengapa pesawat tak kunjung tiba
Petugas hanya mengangkat bahu tanpa jawab yang pasti
Padahal “transportasi udara bukan sekadar perpindahan, ia adalah nadi kehidupan yang menyambung denyut aktivitas antar wilayah” — begitu kata teori yang kini terbukti luka
Warga Lampung yang biasa melesat ke Jakarta dalam sejam
Kini tertahan waktu, memilih jalan panjang kapal ferry melintasi Selat Sunda
Dari Bakauheni ke Merak, ombak menggantikan awan
Kekecewaan mengendap di setiap helaan napas penumpang
Urusan bisnis tertunda, keluarga tak kunjung tersambung
Rumah sakit rujukan di Jakarta seperti gunung yang menjauh
Padahal hidup kadang butuh kecepatan yang hanya sayap yang mampu
Sembari menunggu kepastian, Bandara Radin Inten II berbisik lirih
Bahwa langit tanpa lalu lintas adalah kesunyian yang mahal
Masyarakat Lampung menatap ufuk barat, berharap esok kembali mengudara
Karena terbang bukan kemewahan, tapi kebutuhan yang menyambung jiwa dan raga
Jakarta Selatan, 5 Mei 2026






