Kirka – Memasuki kuartal kedua 2026, pamor Rahmat Mirzani Djausal belum tertandingi.
Sosok yang akrab disapa Mirza tersebut kokoh menempati posisi puncak daftar pemimpin paling populer se-Provinsi Lampung.
Tingkat penerimaan masyarakat terhadap kinerjanya bahkan menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah pemerintahan daerah setempat.
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, memaparkan fakta di balik tingginya simpati warga.
Menurutnya, pondasi kekuatan sang gubernur sudah terbangun sangat kuat sejak meraup 82,69 persen suara pada Pilkada 2024 lalu.
Legitimasi tersebut semakin tebal ketika hasil survei seratus hari kerja pada Juni 2025 menunjukkan angka kepuasan publik mencapai 83,67 persen.
“Kepercayaan sebesar itu tidak jatuh dari langit,” ungkap Mahendra, Selasa, 14 April 2026.
Ia membedah fenomena kepemimpinan Mirza menggunakan pisau analisis sosiolog Max Weber tentang tiga tipe otoritas, tradisional, legal-rasional, dan karismatik.
Sang gubernur dinilai berhasil menggabungkan mandat legal-rasional dari kotak suara dengan pesona karismatik yang memikat hati rakyat.
Merujuk pandangan Weber dalam buku Economy and Society, Mahendra menjelaskan bahwa kharisma membuat masyarakat bergerak secara sukarela karena meyakini visi sang tokoh.
Bukti nyatanya terlihat dari cara pengusaha muda tersebut menerjemahkan gagasan Bersama Lampung Maju Menuju Indonesia Emas 2045 ke dalam program kerja yang langsung dirasakan warga.
Mulai dari pengecoran seratus kilometer jalan raya, program pelatihan dan pengiriman tenaga kerja ke Jepang, hingga keberhasilan menyabet penghargaan pelayanan publik bergengsi dari Ombudsman RI.
Berbagai gebrakan tersebut otomatis mempertebal rasa percaya dari masyarakat luas.
Bila disandingkan dengan kepala daerah tingkat kabupaten atau kota periode 2025-2030, jangkauan pengaruh gubernur tentu jauh lebih luas.
Mahendra mencontohkan Bupati Lampung Selatan Radityo Egi Pratama yang sukses meraih angka kepuasan 81,74 persen versi RLMG 2025, atau Wali Kota Bandarlampung Eva Dwiana dengan predikat pelayanan Grade A.
Keduanya memang sangat berprestasi, namun gaung popularitasnya secara natural hanya berpusat pada batas wilayah administratif masing-masing.
Berbeda dengan Mirza yang pergerakan dan kebijakannya memayungi seluruh wilayah provinsi.
Mengutip pemikiran pakar kepemimpinan Warren Bennis, Mahendra mengingatkan bahwa esensi kepemimpinan terletak pada kepiawaian mewujudkan sebuah visi menjadi kenyataan.
“Mirza sudah membuktikan kemampuannya merangkul lintas wilayah. Memang, ke depan bayang-bayang tantangan fiskal daerah masih menanti dan butuh penyelesaian cermat.
“Namun setidaknya sampai April 2026, posisinya sebagai figur pemimpin paling dicintai rakyat Lampung sama sekali belum tergoyahkan,” tutup Mahendra.






