Nyamplung Lampung: Emas Hijau Pesisir untuk Kemandirian Energi Nasional

Nyamplung Lampung: Emas Hijau Pesisir untuk Kemandirian Energi Nasional
Ilustrasi potensi hilirisasi tanaman Nyamplung (Calophyllum inophyllum) di kawasan pantai Lampung. Foto: Arsip Wiki/DBS/Kirka/I

Kirka – Garis pantai Provinsi Lampung rupanya menyimpan harta karun ekologi yang belum tergarap maksimal.

Di tengah ambisi global menekan emisi karbon lewat Net Zero Emission, tanaman Nyamplung (Calophyllum inophyllum) diproyeksikan menjadi kunci kemandirian energi nasional di masa depan.

Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menyoroti urgensi pemanfaatan flora pesisir tersebut.

Menurutnya, Nyamplung mampu mengubah konstelasi ekonomi daerah, dari yang sekadar benteng alami penahan abrasi, bermetamorfosis menjadi lumbung energi dunia.

“Komoditas penghasil Tamanu Oil ini menawarkan keunggulan absolut dibandingkan kelapa sawit.

“Alasan mendasarnya sangat jelas, nyamplung tidak memicu konflik kepentingan dengan rantai pasok pangan manusia,” ungkap Mahendra, Kamis, 19 Maret 2026.

Ekstraksi dan Ekonomi Sirkular

Eksponen 98 ini memaparkan bahwa tingkat rendemen minyak nyamplung terbilang fantastis, menyentuh angka 40 hingga 74 persen.

Ekstraksi setinggi itu secara otomatis merajai komoditas substitusi lain semacam jarak pagar ataupun kedelai.

Lebih dari sekadar tingginya hasil perasan, produktivitas pohonnya juga sangat menjanjikan kelestarian jangka panjang.

Satu hektare lahan budidaya mampu memanen hingga 20 ton biji per tahun, dengan siklus hidup produktif yang merentang antara setengah hingga satu abad.

Nilai tawar Nyamplung makin meroket berkat prinsip ekonomi sirkular yang melekat padanya.

Tak cuma disuling menjadi biodiesel atau biokerosin untuk kebutuhan domestik, minyak nabati ini merupakan komponen krusial dalam pembuatan Sustainable Aviation Fuel (SAF) alias bioavtur, bahan bakar ramah lingkungan yang kini jadi incaran utama industri aviasi global.

Ia juga merinci potensi zero waste atau nir limbah dari proses pengolahannya.

Sisa ekstraksi berupa bungkil sangat ideal dijadikan pakan ternak sarat protein.

Sementara, getah dan resinnya laku keras sebagai bahan baku bernilai tinggi di industri farmasi dan kosmetik.

Bahkan, cangkang keras pelindung biji dapat dikarbonisasi menjadi arang aktif bermutu ekspor.

“Implementasi hilirisasi skala industri di pesisir kita tak pelak akan memicu pembukaan ribuan lapangan kerja baru di sektor Hutan Tanaman Rakyat.

“Menariknya, bisa berjalan paralel tanpa harus menggusur lahan komoditas andalan daerah seperti lada maupun kopi,” urainya.

Regulasi

Dari kacamata ekologi, ekspansi nyamplung di lahan marginal sangat sejalan dengan pilar Green Economy serta target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

Flora ini bertindak sebagai penyerap emisi karbon yang tangguh sekaligus tameng alami pesisir.

Argumen tersebut selaras dengan temuan Budi Leksono, Peneliti Ahli Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Budi sebelumnya menegaskan bahwa teknologi konversi nyamplung menjadi bioavtur telah teruji paripurna secara teknis.

Kendala utamanya saat ini mengerucut pada komitmen regulasi hilirisasi agar Indonesia bisa melompat menjadi eksportir biofuel global.

Merespons hal itu, sekaligus mendukung visi Gubernur Rahmat Mirzani Djausal yang ingin menahbiskan Lampung sebagai Lumbung Energi Nasional, Mahendra menyodorkan sejumlah cetak biru taktis.

Langkah pertama, ia mendesak penetapan tata ruang khusus di kawasan pesisir Selatan dan Barat untuk pengembangan nyamplung berbasis kemitraan rakyat.

Kedua, pendirian pilot plant pengolahan Crude Tamanu Oil misalnya, di titik strategis seperti Kalianda, harus segera dieksekusi lewat kolaborasi antara Pemprov, BRIN, dan investor swasta.

“Tentu saja, manuver ini wajib dibarengi guyuran insentif bibit unggul dan jaminan serapan pasar (offtake) agar petani bergairah,” tambahnya.

Di tingkat pusat, sinkronisasi regulasi sertifikasi SAF bersama Kementerian ESDM dan KLHK menjadi syarat mutlak agar produk lokal ini diakui standar internasional.

“Solusi energi itu nyatanya tidak jauh. Emas hijau tersebut sudah tumbuh subur menyapu ombak di sepanjang pantai kita.

“Kini, waktunya beranjak dari sekadar mengagumi pesona pesisir, menuju aksi nyata memanen energi masa depan,” tutup Mahendra.