Bukan Cuma di Kota, Gubernur Lampung Tantang Apindo Jadikan Desa Lokomotif Ekonomi

Bukan Cuma di Kota, Gubernur Lampung Tantang Apindo Jadikan Desa Lokomotif Ekonomi
Gubernur Mirza di Musyawarah Provinsi (Musprov) ke-8 Dewan Pimpinan Provinsi (DPP) Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Lampung. Foto: Arsip Diskominfotik

Kirka – Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menyoroti tajam ketimpangan perputaran ekonomi yang selama bertahun-tahun lebih banyak terpusat di kawasan perkotaan.

Saat membuka agenda Musyawarah Provinsi (Musprov) ke-8 Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Lampung di Hotel Emersia, Senin, 22 Juni 2026, ia mendesak para pelaku usaha untuk segera menggeser keran investasi hingga ke pelosok desa.

Bagi Gubernur, perubahan orientasi bisnis merupakan langkah mutlak.

Pria yang akrab disapa Gubernur Mirza tersebut menegaskan bahwa arah pembangunan daerah harus beralih dari konsep menunggu tetesan ke bawah (trickle down effect), menjadi kekuatan ekonomi yang tumbuh dari akar rumput (bottom up economy).

Tujuannya agar masyarakat pedesaan tidak sekadar menjadi penonton, melainkan motor produktivitas berdaya saing tinggi.

“Kekuatan ekonomi Lampung sesungguhnya tidak hanya berada di kota, tetapi membentang luas di desa-desa.

“Oleh karena itu, industri wajib bersifat inklusif. Kita ingin kawasan pedesaan menjadi lebih tangguh dan memiliki nilai tambah,” tegas Mirza.

Strategi membangkitkan ekonomi pedesaan sangat bergantung pada sektor pertanian.

Mengutip rilis Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Bumi Ruwa Jurai sukses menyentuh angka 5,58 persen secara tahunan (year on year) pada triwulan pertama 2026.

Angka positif tersebut ditopang oleh kolaborasi sektor pertanian, industri pengolahan, dan perdagangan.

Agar potensi agrobisnis mendatangkan pundi-pundi maksimal bagi warga, sang Gubernur mewajibkan penerapan hilirisasi.

Mirza melarang kebiasaan lama membuang peluang lewat penjualan komoditas mentah.

“Sekitar 80 persen nilai tambah komoditas terletak pada proses pengolahannya. Kita harus perkuat hilirisasi.

“Produk pertanian wajib diolah terlebih dahulu agar harganya melambung, sekaligus menyerap banyak tenaga kerja lokal,” paparnya.

Perbaikan taraf hidup warga desa melalui pembukaan lapangan kerja baru diyakini akan berdampak lurus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).

Sebagai lumbung pangan dan pemasok protein nasional, Mirza memandang pemenuhan gizi berkualitas bagi masyarakat sebagai syarat utama mencetak generasi masa depan yang unggul.

Gebrakan dari Pemerintah Provinsi langsung direspons positif oleh kalangan dunia usaha.

Ketua DPP Apindo Lampung Ary Meizari Alfian menyatakan kesiapan jajarannya untuk memposisikan diri sebagai mitra strategis penggerak roda kesejahteraan rakyat.

Baginya, forum musyawarah lima tahunan tersebut adalah momentum tepat merumuskan peta jalan pasca-kebangkitan dari tekanan pandemi beberapa waktu lalu.

“Apindo selalu berkomitmen menjadi lokomotif pertumbuhan sekaligus menaikkan kelas UMKM. Kami akan terus menyuarakan solusi objektif dan konstruktif demi kemajuan daerah,” terang Ary.

Di bawah kepemimpinannya, tingkat realisasi program kerja asosiasi pengusaha tersebut menembus angka 90 persen, ditopang oleh ratusan kegiatan kolaboratif bersama puluhan mitra strategis.

Kinerja solid dunia usaha lokal juga tergambar dari surplus neraca perdagangan daerah yang mencapai US$411,47 juta pada awal tahun.

Mengusung tema besar menyongsong Indonesia Emas, perhelatan perumusan kepengurusan baru Apindo Lampung turut diwarnai sesi penyerahan apresiasi.

Penghargaan langsung diserahkan oleh Gubernur Rahmat Mirzani Djausal kepada sejumlah pihak yang dinilai berjasa menjaga iklim usaha tetap kondusif di provinsi ujung selatan Pulau Sumatera.