Lampung Siap Jadi Episentrum Green Data Center AI Berbasis Panas Bumi

Lampung Siap Jadi Episentrum Green Data Center AI Berbasis Panas Bumi
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, mendorong optimalisasi tiga titik geothermal Lampung sebagai wujud kesiapan daerah membangun pusat data hijau AI. Foto: Arsip pribadi/Kirka

Kirka – Ketersediaan energi panas bumi (geothermal) di wilayah Lampung membuka jalan bagi daerah ujung selatan Sumatera menjadi pusat data hijau (green data center) berbasis kecerdasan buatan atau AI.

Tiga kawasan utama yakni Ulubelu, Suoh, dan Gunung Rajabasa dinilai memiliki kapasitas pasokan listrik tanpa henti bagi kebutuhan industri teknologi masa depan.

Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, mengingatkan agar potensi sumber daya alam ditangkap secara cermat oleh pemerintah daerah.

Langkah membangun ekosistem digital dinilai sangat selaras dengan visi pemerintah pusat.

“Utusan Khusus Presiden, Hashim Djojohadikusumo, sudah menegaskan keunggulan geografis kita.

“Geothermal Sumatra adalah fondasi kuat membangun ekosistem pusat data,” ungkap Mahendra di Bandarlampung, Senin, 10 Agustus 2026.

Operasional pusat data AI menuntut ketersediaan listrik 24 jam penuh tanpa jeda.

Menjawab tantangan pasokan, Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Ulubelu berkapasitas 220 Megawatt (MW) telah beroperasi dan memegang status sebagai proyek percontohan green hydrogen.

Cadangan energi raksasa turut bersembunyi di dua wilayah lain.

Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Sekincau di kawasan Suoh, Kabupaten Lampung Barat mencatatkan potensi 403 MWe, sementara Gunung Rajabasa di Lampung Selatan menembus angka 283 MWe.

Kesiapan menyuplai setrum ramah lingkungan telah disuarakan oleh Pertamina Geothermal Energy (PGEO).

Perusahaan pengelola 70 persen panas bumi nasional rupanya tengah merampungkan kajian bersama Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO) dan Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI).

Direktur Utama PGEO, Ahmad Yani, menjamin keandalan suplai dari perusahaannya.

“Geothermal kan baseload energi, bisa 24 jam. Kita bisa support energi listriknya,” tegas Yani.

Kepastian suplai energi berpeluang besar menyedot aliran dana segar bernilai triliunan rupiah.

Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) memproyeksikan alokasi Rp21 triliun khusus pengembangan platform data center, beserta proyeksi efek ganda perekonomian hingga enam kali lipat.

Meninjau pergerakan ekonomi makro, Mahendra meyakini investasi skala raksasa akan memutar roda perputaran uang lokal secara drastis.

Ribuan lapangan kerja baru dipastikan terbuka, beriringan dengan bangkitnya sektor konstruksi, telekomunikasi, dan logistik. Peningkatan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) serta kerekatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) diproyeksikan melonjak pesat.

Analisis sang pemerhati merujuk pada Teori Pembangunan Ekonomi gagasan Joseph Schumpeter.

Lompatan kemajuan sebuah daerah selalu terlahir lewat kombinasi suntikan modal baru serta inovasi teknologi tinggi.

Upaya Gubernur Rahmat Mirzani Djausal yang mulai merambah pemanfaatan satelit luar angkasa dinilai sebagai langkah awal strategis.

Transformasi digital yang terus digarap bareng raksasa teknologi global semacam AWS dan Microsoft mutlak butuh dukungan infrastruktur fisik mumpuni.

“Setelah satelit, pusat data AI harus segera direalisasikan.

“Waktunya bertindak, jadikan daerah kita bukan sekadar lumbung energi bersih, melainkan episentrum ekonomi digital Sumatra,” ujar Mahendra menutup pandangannya.