Hemat Hingga 75%: Gas Bumi Solusi Ekonomis untuk RSUD di Lampung

Hemat Hingga 75%: Gas Bumi Solusi Ekonomis untuk RSUD di Lampung
Pemanfaatan infrastruktur gas bumi PGN didorong untuk mendukung operasional fasilitas modern di RSUD Lampung. Transisi energi diyakini sanggup menjamin pasokan 24 jam sekaligus memangkas beban biaya rumah sakit secara signifikan. Foto: Ilustrasi/RSUDAM/Kirka/Iz

Kirka – Penggunaan gas bumi terbukti sanggup memangkas biaya operasional Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) hingga 75 persen.

Efisiensi besar-besaran pada pos pengeluaran energi langsung membuka ruang bagi institusi medis untuk meningkatkan pembiayaan mutu pelayanan kepada pasien.

Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, membeberkan beban keuangan fasilitas kesehatan tingkat daerah kerap terkuras untuk membayar tagihan bahan bakar.

Pemotongan anggaran secara masif mutlak dilakukan agar sisa dana bisa dialihkan pada penyediaan obat atau peremajaan alat kelengkapan medis.

“Beban rutin rumah sakit daerah sering habis pada pos energi.

“Bukti nyata di RSUP Dr. Sardjito memperlihatkan peralihan bahan bakar menghemat anggaran sampai 75 persen, sebuah penghematan yang nyata dan terukur,” papar Mahendra, Kamis, 24 September 2026.

Data pemakaian rumah sakit rujukan nasional mencatat volume konsumsi gas berada pada kisaran 25.000 hingga 30.000 meter kubik per bulan.

Ketersediaan suplai terintegrasi sukses mengakomodasi kerja ketel uap (boiler), pusat sterilisasi perlengkapan bedah, sampai area dapur tanpa kendala suplai.

Keuntungan ganda penerapan bahan bakar alternatif langsung menyentuh aspek pelestarian lingkungan hidup.

Tingkat emisi pembakaran material gas terbukti 30 sampai 40 persen lebih rendah ketimbang minyak maupun batu bara, sekaligus berkontribusi menekan angka polusi udara daerah.

Realisasi transformasi menuju layanan medis hemat energi amat terbuka berkat kesiapan infrastruktur PGN Area Lampung.

Perusahaan penyedia daya saat sekarang aktif melayani 15.443 pelanggan dari kelompok rumah tangga, sentra komersial, hingga fasilitas pelayanan publik.

Ketersediaan jaringan penyaluran pun sangat sejalan bersama kebijakan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal yang memprioritaskan ketahanan suplai bagi masyarakat.

“Kombinasi antara jaminan pasokan tanpa henti dan efisiensi biaya adalah titik balik perubahan.

“Beban APBD berkurang drastis, kualitas pengobatan melonjak, dan kelestarian alam tetap terjaga utuh,” pungkas Mahendra.