Kirka – Peningkatan kapasitas jaringan pipa gas di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei membawa dampak ekonomi berlapis bagi Provinsi Sumatra Utara.
Infrastruktur energi bukan sekadar proyek teknis mekanikal, melainkan instrumen strategis penciptaan nilai tambah secara masif.
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, memaparkan fakta kucuran investasi kumulatif KEK Sei Mangkei telah menembus angka Rp33,15 triliun hingga pertengahan 2026.
Penyerapan tenaga kerja lokal maupun nasional juga tercatat mencapai 16.191 orang.
“Keberadaan pasokan gas menggerakkan sektor pendukung secara langsung.
“Bukti nyatanya, Unilever Oleochemical Indonesia saja bisa mencatatkan nilai ekspor Rp7,14 triliun pada semester pertama 2026, menyumbang lebih dari separuh total ekspor kawasan,” urai Mahendra, Sabtu, 26 September 2026.
Mahendra merujuk pada hasil studi Reforminer yang menemukan setiap investasi hulu gas bumi berpotensi melipatgandakan nilai ekonomi hingga 6,5 kali.
Angka linkage index atau indeks keterkaitan total industri hulu gas bertengger di level 3,12, melampaui rata-rata nasional.
Secara teori keterkaitan ekonomi (backward and forward linkages), pasokan gas bumi menjamin ketersediaan bahan baku bagi pabrik oleokimia dan pupuk.
Rantai pasok terintegrasi kemudian menghidupkan sektor konstruksi, logistik, serta jasa teknik.
Peningkatan volume produksi berujung pada lahirnya lapangan kerja baru, sekaligus memutar roda pendapatan masyarakat lokal selaras dengan teori efek pengganda Keynesian.
Sejalan dengan pemaparan Mahendra, Wakil Menteri Perindustrian sekaligus Komisaris Utama Pertagas, Faisol Riza, menegaskan transformasi menuju industri hijau merupakan sebuah keharusan demi menjawab tuntutan pasar global.
Gas bumi memegang peran sentral sebagai energi transisi dalam proses dekarbonisasi industri pabrikan.
Optimalisasi kapasitas pipa gas KEK Sei Mangkei juga disiapkan untuk menyerap pasokan baru dari proyek Pipa Sutri rute Dumai-Sei Mangkei senilai Rp3,5 triliun.
Rencana jangka panjang mencakup pengembangan cadangan gas dari area Blok Andaman.
Kelancaran eksekusi agenda operasional energi Sumatra Utara tentu tak terlepas dari rekam jejak kepemimpinan Direktur Utama Pertagas, Indra P Sembiring.
Pengalaman Indra sebagai operator Pipa Cisem I serta kepercayaan mengelola Pipa Cisem II menjadi landasan kuat operasional perusahaan.
Atas dasar pencapaian nyata di lapangan, Mahendra memberikan apresiasi tinggi kepada Presiden Prabowo Subianto, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza, para Komisaris, beserta seluruh jajaran Direksi Pertagas.
Sinergi seluruh pihak terbukti nyata menjadikan KEK Sei Mangkei sebagai simbol kebangkitan industri Sumatra Utara.






