Mengapa PM Inggris Keir Starmer Mundur dan Dampaknya bagi Indonesia

Mengapa PM Inggris Keir Starmer Mundur dan Dampaknya bagi Indonesia
Pemerhati Pembangunan Mahendra Utama. Ia mengingatkan pemerintah terkait potensi efek domino dari mundurnya PM Inggris Keir Starmer terhadap stabilitas ekonomi dan iklim investasi di Indonesia. Foto: Arsip pribadi/Kirka/I

Kirka – Keputusan Keir Starmer mundur dari kursi Perdana Menteri (PM) Inggris akibat tekanan internal Partai Buruh memicu gelombang ketidakpastian baru di daratan Eropa.

Gejolak suksesi kepemimpinan di London berpotensi kuat membawa efek domino terhadap stabilitas perekonomian Indonesia, terutama pada sektor investasi dan perdagangan.

Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menegaskan perubahan mendadak peta politik di salah satu episentrum ekonomi global wajib diantisipasi serius oleh pemerintah.

Berdasarkan pendekatan makroekonomi, instabilitas negara maju selalu menemukan jalan untuk merambat ke negara berkembang.

“Transmisi dampaknya akan langsung terasa melalui tiga saluran penting, yaitu pergerakan perdagangan, iklim investasi, serta sentimen pasar keuangan,” ungkap Mahendra, Selasa, 23 Juni 2026.

Menurutnya, fluktuasi arah kebijakan di negara-negara pusat (core countries) seperti Inggris otomatis memberi tekanan tersendiri bagi stabilitas ekonomi negara berkembang (periphery countries).

Pandangan selaras dengan konsep dasar Teori Ketergantungan (Dependency Theory).

Mahendra menyoroti tantangan paling nyata pasca-era Starmer, yakni hilangnya kepastian arah kebijakan fiskal dan komitmen kerja sama bilateral.

Titik paling rawan bagi Indonesia terletak pada kelanjutan investasi hijau.

“Inggris merupakan mitra sangat strategis bagi pendanaan transisi energi kita.

“Dinamika politik yang sedang terjadi berisiko besar memperlambat realisasi komitmen investasi, salah satunya pendanaan lewat skema Just Energy Transition Partnership (JETP),” jelas Mahendra.

Di luar isu energi, sektor riil ikut dibayangi ancaman pelambatan.

Kinerja ekspor komoditas unggulan nasional ke Inggris rawan menghadapi penyesuaian regulasi mendadak.

Peluang munculnya kebijakan proteksionisme ekonomi terbuka lebar jika kabinet baru kelak memilih langkah aman demi meredam gejolak pemilih domestik mereka.

Lebih jauh, transisi kekuasaan memicu sikap wait and see di kalangan investor.

Kehati-hatian para pemilik modal diprediksi bakal menahan laju aliran modal asing langsung (Foreign Direct Investment/FDI) dari Inggris ke tanah air dalam jangka pendek.

Meski bayang-bayang perlambatan sektor riil tampak nyata, respons pasar keuangan global sejauh pengamatan masih terkendali.

Analis pasar ING Bank, Francesco Pesole, mencatat dampak langsung pengunduran diri Starmer terhadap pergerakan poundsterling cenderung terbatas karena pelaku pasar rupanya telah memfaktorkan (priced in) risiko volatilitas politik jauh hari.