Kirka – Puisi Sembah Duka Atas Tumbangnya Garuda Muda merupakan sebuah elegi yang mengekspresikan duka cita mendalam atas gugurnya seorang anggota kepolisian muda bernama Brigadir Arya.
Ia dikisahkan gugur dalam tugas akibat peluru dari seorang penjahat atau begal di Jalan Pagaralam, Lampung.
Melalui bait-bait awalnya, Mahendra Utama menggambarkan suasana kelabu dan kehilangan yang besar, mewakili kesedihan masyarakat Lampung atas kepergian sosok Garuda Muda yang sedang menjalankan amanah menjaga keamanan.
Lebih dari sekadar ratapan kehilangan, puisi ini juga memuat kecaman dan kutukan keras terhadap pelaku pembunuhan yang dibalut dengan filosofi budaya Lampung yang kental.
Mahendra menyinggung Piil Pesenggiri (prinsip luhur tentang kehormatan dan harga diri masyarakat Lampung) untuk menegaskan betapa pengecut dan hinanya perbuatan pelaku yang tak beradab dan membawa rasa malu bagi daerahnya.
Dengan menyebutkan entitas sakral dan leluhur seperti Sekala Brak dan Pepadun, puisi ini menjelma menjadi doa agar sang pahlawan mendapatkan tempat paling mulia di sisi Tuhan, sekaligus menjadi ikrar bahwa masyarakat tidak akan pernah gentar dan akan terus menuntut keadilan.
Sembah Duka Atas Tumbangnya Garuda Muda, Karya: Mahendra Utama
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un
Jalan Pagaralam berubah sunyi tadi pagi,
Garuda mudamu rebah, darah terpercik di aspal.
Brigadir Arya, kau pulang dalam peluru durhaka,
Lampung menangis, langit pun hilang warnanya.
Wahai pembunuh, ketahuilah,
Allah melaknat tangan yang tak gentar menodai amanah.
Neraka adalah tempat terbaik bagi yang merampas nyawa tanpa hak,
Di hadapan-Nya, tak ada begal atau polisi, hanya dosa yang menjerit.
Dan di bumi Lampung, kami berseru dengan Piil Pesenggiri:
Hina kau yang menembak dari balik ketakutan!
Kau rusak muli dan mekhanai, kau ingkar juluk adok.
Sai bubukh namamu, manusia tanpa adab, membuang malu sekampung.
Sekala Brak menyimpan angin sakral; ia berbisik:
“Semoga tanah Andak yang kau injak menjadi sumpah,
Semoga ghibang dan rampak membungkam langkah jahatmu.”
Kami titip doa pada Pepadun yang tak pernah tidur.
Brigadir Arya, kini kau sahabat para bidadari surga.
Di sisi-Nya, seragam birumu berganti cahaya.
Kami, orang sekampung, akan tetap menanam keadilan,
Sampai peluru terakhir pun, tak akan gentar menjaga fajar.
—
📌 Tanjungkarang Barat, Sabtu 9 Mei 2026Pukul 16.11 WIB
Mahendra Utama
(Penulis, warga yang berduka)






