Rahmat Mirzani Djausal Bapak PJS Lampung: Lahirkan Inspirasi Hilirisasi 3 Komoditas

Rahmat Mirzani Djausal Bapak PJS Lampung: Lahirkan Inspirasi Hilirisasi 3 Komoditas
Staf Khusus Bidang Industri dan Perdagangan, Mahendra Utama (kiri) memaparkan peta jalan hilirisasi komoditas Padi, Jagung, dan Singkong (PJS). Foto: Arsip pribadi/Kirka/I

Kirka – Ketergantungan petani terhadap pupuk kimia perlahan terkikis, sementara nilai jual hasil panen merangkak naik.

Perubahan wajah sektor pertanian Provinsi Lampung bukan sekadar kebetulan, melainkan hasil rancang bangun strategi hilirisasi Padi, Jagung, dan Singkong (PJS) rancangan Gubernur Rahmat Mirzani Djausal bersama Wakil Gubernur Jihan Nurlela.

Staf Khusus Gubernur Lampung Bidang Industri dan Perdagangan, Mahendra Utama, menyebut langkah sang kepala daerah menyentuh langsung denyut nadi perekonomian akar rumput.

Berkat terobosan mengolah komoditas mentah menjadi barang bernilai tambah langsung dari desa, Rahmat layak menyandang predikat “Bapak PJS Lampung”.

“Pembangunan tidak lagi menempatkan desa sebagai penonton. Undang-Undang Desa Nomor 6 Tahun 2014 benar-benar dijalankan.

“BUMDes sekarang menjadi mesin utama penggerak ekonomi,” ucap Mahendra, Senin, 4 Mei 2026.

Kemandirian Pupuk

Bukti nyata pergeseran paradigma tergambar dari masifnya penyebaran pusat produksi Pupuk Organik Cair (POC).

Mahendra membeberkan data riil lapangan.

Hingga penutupan tahun 2025 lalu, pemerintah provinsi sukses merampungkan 500 fasilitas produksi POC.

Jangkauannya mencakup 190.000 petani dengan luas garapan mencapai 175.788 hektare.

Sentuhan teknologi pengolahan mandiri menelurkan hasil positif.

Produktivitas lahan melonjak 25 persen, dibarengi penurunan pemakaian pupuk kimia hingga 30 persen.

Tercatat 477.000 jiwa penduduk merasakan langsung manfaat dari ketersediaan nutrisi tanaman murah.

Efisiensi Pascapanen

Upaya mengerek harga jual berlanjut ke tahap pascapanen lewat distribusi mesin pengering (bed dryer).

Pada tahun anggaran 2025, sebanyak 34 unit mesin telah beroperasi penuh, disusul alokasi tambahan 82 unit pada 82 lokasi berbeda sepanjang 2026.

Satu unit mesin sanggup menyusutkan kadar air 200 ton padi dan 300 ton singkong setiap bulan.

Efisiensi proses pengeringan sanggup menekan angka penyusutan kuantitas panen sampai 7 persen.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Lampung, M. Zimmi Skil, memandang fasilitas pengering sebagai pijakan awal menuju industrialisasi pedesaan.

Petani otomatis mengantongi daya tawar lebih tinggi karena mutu gabah maupun singkong sangat terjaga sebelum masuk pabrik.

Integrasi Vokasi dan BUMDes

Pembangunan fasilitas fisik berjalan seirama dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

Badan Usaha Milik Desa mendapat mandat mengonsolidasi hasil bumi sekaligus mengoperasikan alat pascapanen.

Demi menyokong peran BUMDes, pemerintah gencar membuka ruang pendidikan vokasi.

Sebanyak 928 warga usia produktif telah menuntaskan pelatihan pada 2025, disusul target 500 peserta baru tahun 2026.

Mahendra mengutip pernyataan Gubernur Mirza di hadapan civitas akademika Polinela beberapa waktu lalu, bahwa sasarannya murni mencetak warga produktif yang sanggup memimpin sektor riil, bukan sekadar menjadi pekerja.

Integrasi utuh program pupuk organik, mesin pengering, dan pelatihan vokasi membuahkan lonjakan kesejahteraan kasat mata.

Petani jagung di Desa Wonomarto, misalnya, mencatat kenaikan pemasukan bersih senilai Rp1 juta per bulan semenjak mesin pengering beroperasi.

Mahendra memastikan, fondasi industrialisasi pedesaan telah tertanam kuat di tanah Sang Bumi Ruwa Jurai.

“Tugas masyarakat sekarang sekadar mengawal keberlanjutan roda ekonomi demi mewujudkan cita-cita kemandirian pangan nasional yang utuh,” pungkas Mahendra.