Kirka – Selama bertahun-tahun, kekayaan alam Lampung seperti kopi, lada, hingga hasil laut lebih banyak mengalir ke luar daerah dalam bentuk mentah.
Praktik jual murah tersebut perlahan dirombak total oleh Gubernur Rahmat Mirzani Djausal (Mirza) lewat strategi hilirisasi yang berpusat pada pengembangan empat kawasan industri terpadu.
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, memandang langkah sang gubernur sebagai upaya nyata memutus rantai kerugian daerah.
Berdasarkan data pemerintah, baru 30 persen komoditas unggulan yang masuk pabrik pengolahan.
“Sisanya yang 70 persen diekspor begitu saja.
“Padahal ada potensi uang beredar hingga Rp130 triliun dari total produksi tahunan yang mencapai Rp150 triliun,” ungkap Mahendra di Bandarlampung, Kamis, 16 April 2026.
Pemerintah daerah, lanjut Mahendra, menargetkan perubahan menyeluruh dalam lima tahun ke depan.
Gubernur Mirza secara tegas menolak jika wilayahnya terus-menerus dikunci sebagai pemasok bahan baku semata.
Pemprov menargetkan Lampung berubah menjadi pusat pengolahan pangan di Pulau Sumatera, dengan proyeksi lonjakan pertumbuhan ekonomi menyentuh angka 8 persen.
Gagasan membangun pabrik pengolahan sejalan dengan pemikiran pakar ekonomi Michael Porter mengenai klaster industri.
Dalam bahasa sederhana, penciptaan kawasan terpusat akan membuat ongkos angkut barang menjadi sangat murah dan membuat produk lokal mampu bersaing di pasar dunia.
Para pengusaha lokal juga dipaksa naik kelas, dari sekadar pengepul hasil panen menjadi pembuat produk jadi bernilai jual tinggi.
Zona Pengolahan
Pembangunan empat zona industri tersebut tidak diputuskan sembarangan.
Mahendra menjelaskan, lokasinya disesuaikan dengan keunggulan alam dan kelengkapan fasilitas transportasi sekitar:
Rejosari (Lampung Selatan – Pesawaran):
Berdiri di atas lahan 4.000 hektare, area tersebut diplot sebagai pusat industri pertanian.
Posisinya terbilang sangat menguntungkan karena menempel langsung dengan Tol Trans Sumatera, Pelabuhan Panjang, Bandara Radin Inten, dan kelak dilengkapi terminal bongkar muat barang (dry port).
Ketibung (Lampung Selatan):
Seluas 272 hektare, khusus menampung pabrik berskala besar seperti petrokimia, baja, dan oleokimia.
Area pesisir tersebut ditopang oleh ketersediaan pasokan listrik dari PLTU Sebalang serta akses pelabuhan laut dalam.
Waykanan (4.500 hektare):
Disiapkan menjadi jantung pengolahan hasil tani di kawasan pedalaman.
Hasil panen petani bisa langsung diolah di tempat tanpa perlu memikirkan mahalnya biaya sewa truk ekspedisi antar kota.
Tanggamus (1.200 hektare):
Memanfaatkan panjangnya garis pantai untuk memaksimalkan pabrik pengolahan ikan dan produk turunan kelapa.
Penyebaran lokasi pabrik sengaja dirancang agar truk-truk bermuatan berat tidak menumpuk dan menimbulkan kemacetan lalu lintas di Kota Bandarlampung.
Apabila dua kawasan saja sudah beroperasi penuh, pengolahan bahan baku dari provinsi tetangga di Sumatera Bagian Selatan kelak bisa ditarik ke wilayah-wilayah tersebut.
Efek Domino
Kalkulasi finansial dari megaproyek hilirisasi memberikan harapan besar.
Mahendra menguraikan perbandingan hitungan di atas kertas.
Jika pemerintah diam saja tanpa melakukan terobosan, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Lampung yang pada 2024 berada di kisaran Rp484 triliun, hanya akan merangkak pelan ke angka Rp750-800 triliun pada tahun 2030.
Nilai tambah akan terus bocor ke kantong provinsi lain.
Sebaliknya, bila keempat zona industri mulai mengepulkan asap produksi pada rentang 2026-2030, perputaran uang akan berlipat ganda.
Efek dominonya diyakini mampu mendongkrak PDRB hingga menembus angka Rp950 triliun.
Bagi masyarakat luas, perputaran ekonomi yang kencang berarti kepastian harga beli panen yang lebih layak.
Selain itu, ribuan lowongan pekerjaan baru bakal terbuka dan usaha kecil menengah (UMKM) di sekitar kawasan pabrik otomatis ikut hidup.
Gelombang investasi asing juga dipastikan merangsek masuk melalui forum bisnis daerah.
Meski begitu, Mahendra memberikan satu catatan penutup sebagai peringatan.
“Infrastruktur jalan raya, air bersih, dan keahlian tenaga kerja lokal harus disiapkan dari sekarang.
“Jangan sampai rencana besar tersebut mandek dan sekadar menjadi raksasa tertidur. Hilirisasi adalah jalan wajib agar kita lekas terlepas dari jebakan komoditas mentah,” pungkasnya.






