Kirka – Wajah perekonomian Provinsi Lampung pada 2026 mengalami perubahan signifikan.
Capaian Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang menembus Rp523 triliun dengan pertumbuhan 5,28 persen membuktikan daerah tersebut telah melepaskan predikat sekadar kota perlintasan di Sumatera.
Fokus pergerakan uang kini bertumpu sepenuhnya pada kekuatan sektor agroindustri.
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, memandang lompatan ekonomi ini merupakan buah dari penerapan aturan main pemerintah daerah yang tepat sasaran.
Ia menyoroti berlakunya Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 36 Tahun 2025 tentang Harga Acuan Pembelian (HAP) singkong sebagai titik balik berakhirnya era penjualan komoditas mentah.
“Aturan tersebut membuka jalan lebar bagi proses hilirisasi.
“Pelaku UMKM hingga pemodal besar punya kesempatan mengantongi keuntungan berlipat ganda dari pengolahan pascapanen,” tutur Mahendra, di Bandarlampung, Sabtu, 18 April 2026.
Menurut pandangannya, terdapat lima celah bisnis paling prospektif bagi masyarakat dan pengusaha sepanjang 2026:
1. Olahan Singkong (Mocaf dan Bioetanol)
Daerah berjuluk Sai Bumi Ruwa Jurai menyuplai separuh kebutuhan singkong nasional dengan total produksi 7,9 juta ton per tahun.
Memproses umbi basah menjadi tepung Modified Cassava Flour (Mocaf) bebas gluten atau bioetanol mampu mendongkrak nilai jual sampai 500 persen.
Permintaan pasar ekspor terhadap dua produk olahan tersebut terus melonjak tajam.
2. Tren Roastery dan Kopi Premium
Kapasitas panen robusta diprediksi bertahan pada level 116.272 ton, didukung program PROMIN3TON yang memacu hasil kebun menyentuh 4 ton per hektar.
Mahendra mencatat pergeseran tren usaha ke arah specialty coffee.
Apalagi rekam jejak ekspor biji kopi pernah mencapai USD 400 juta pada 2025, membuat usaha kopi bubuk premium mampu mencetak Internal Rate of Return (IRR) sangat tinggi hingga menembus 200 persen.
3. Modernisasi Pascapanen Lada Hitam
Rempah unggulan asal Lampung secara konsisten menyumbang 26,81 persen total produksi dalam negeri.
Peluang meraup cuan terbuka lewat metode pengolahan modern, seperti penyulingan minyak esensial atau pembuatan serbuk lada steril.
Jalur distribusi lintas negara juga makin ringkas berkat optimalisasi fasilitas Pelabuhan Bakauheni.
4. Turunan Sawit Skala Menengah
Angka pengiriman luar negeri untuk produk turunan sawit sudah melewati batas 2 juta ton.
Artinya, ketergantungan mengekspor CPO mentah mulai terkikis.
Sekarang, industri skala lokal leluasa merambah produksi margarin, sabun, serta minyak kemasan berkat regulasi perizinan yang jauh lebih ramah bagi pemodal menengah.
5. Integrasi Pasar Digital
Penggabungan hasil bumi unggulan dengan platform perdagangan elektronik memunculkan ceruk pasar baru.
Strategi pengemasan eksklusif dipadukan kampanye pemasaran daring sanggup membawa produk lokal, semacam keripik singkong, menembus etalase konsumen global secara langsung.
Pola investasi serentak pada infrastruktur dan fasilitas pengolahan selaras dengan pendekatan Big Push dalam kacamata ekonomi pembangunan.
Kombinasi antara jaminan harga beli dari pemerintah dan kemauan petani mengolah hasil panen sukses menciptakan lingkungan usaha yang subur.
“Konsep hilirisasi sejatinya sangat sederhana. Setiap gram hasil bumi wajib memberikan nilai tambah ekonomi secara maksimal sebelum diangkut keluar dari pelabuhan,” urai eksponen aktivis 98 tersebut.
Ketersediaan subsidi pupuk ditambah payung hukum tata niaga membuat sektor agribisnis sepanjang 2026 sangat layak digarap.
Masyarakat serta pelaku usaha lokal diharapkan segera mengambil peran agar tidak sekadar gigit jari melihat kekayaan alam daerahnya dikelola pihak luar.






