Kirka – Model pengelolaan kawasan lindung di Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung, resmi menjadi rujukan lintas pulau.
Rombongan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) dari Provinsi Kalimantan Tengah secara khusus datang berkunjung guna mempelajari keberhasilan program perhutanan sosial yang digerakkan oleh warga setempat.
Pertukaran pengalaman tersebut terangkum dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema Bioekonomi Kehutanan di KPH untuk Ketahanan Pangan dan Energi yang berlangsung di Desa Bayas, Kecamatan Way Khilau, Kamis, 16 April 2026.
Fasilitasi pertemuan diinisiasi langsung oleh Balai Pengelolaan Hutan Lestari (BPHL) Wilayah VI bersama Direktorat Bina Rencana Pemanfaatan Hutan (BRPH) Kementerian Kehutanan.
Kisah sukses di tingkat tapak menjadi daya tarik utama bagi rombongan dari Borneo.
Ketua KTH Indah Jaya sekaligus perwakilan Gapoktanhut Bayas Jaya, Sutisna, menceritakan perubahan nasib para petani pinggir hutan.
Lewat pendampingan berkesinambungan, keraguan masyarakat perlahan terkikis dan berubah menjadi kesadaran menanam komoditas Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK).
“Sekarang warga tidak perlu diperintah lagi. Semua sudah menanam dan menjaga tegakan pohon,” tutur Sutisna, dilansir pada Jumat, 17 April 2026.
Dampaknya langsung terasa pada kantong petani.
Hasil panen komoditas unggulan mampu menyokong biaya pendidikan anak hingga merenovasi rumah kayu sederhana menjadi bangunan tembok permanen yang jauh lebih layak.
Kepala KPH Pesawaran, Iskandar, menegaskan bahwa pendekatan yang mereka terapkan berhasil menyatukan dua kutub yang sering dianggap berseberangan, pelestarian lingkungan dan perputaran ekonomi.
Lewat skema bioekonomi, kelestarian ekosistem justru menjadi mesin penghasil pangan serta energi bagi penduduk sekitar.
Kendati demikian, edukasi tata cara bertanam saja belum cukup.
Dosen Fakultas Pertanian Universitas Lampung, Christine Wulandari, mengingatkan pentingnya membangun rantai pasok yang jelas.
Sistem agroforestri berlapis yang terbukti menekan laju erosi permukaan tanah di Pesawaran, kata Christine, harus ditunjang oleh pemahaman tentang selera pasar serta diversifikasi produk turunan.
Tujuannya agar hasil panen melimpah bisa langsung diserap oleh pembeli.
Merespons capaian positif tersebut, Direktur Bina Rencana Pemanfaatan Hutan Kementerian Kehutanan, C Hendro Widjanarko, menyebut praktik di Desa Bayas sangat sejalan dengan target strategis nasional.
Pelibatan masyarakat lokal sebagai penjaga garis depan dinilai paling efektif mengamankan ketahanan pangan, energi, maupun sumber air ke depan.
Hendro juga menyoroti semangat juang para rimbawan dan kelompok tani lokal meski terbentur keterbatasan dana dari pemerintah daerah.
“Anggaran sektor kehutanan di Lampung dan Kalteng bagai bumi dan langit.
“Tapi saya lihat di Pesawaran semangatnya sangat tinggi. Jadi kita datang ke mari sama-sama untuk belajar,” tutupnya.






