Kirka – Kesejahteraan petani di Kabupaten Lampung Selatan perlahan menemukan momentumnya.
Tingginya nilai jual komoditas pangan, dipadukan dengan penetrasi program infrastruktur pertanian dari pemerintah daerah, sukses memicu gairah ekonomi baru di tingkat desa.
Kesimpulan ini bukan sekadar klaim di atas kertas.
Ketua Tim Survei Verifikasi Bantuan Bed Dryer Provinsi Lampung Wilayah 1, Mahendra Utama, membeberkan realitas tersebut usai merampungkan penyisiran langsung di delapan kecamatan, yakni Natar, Jati Agung, Candipuro, Way Panji, Palas, Ketapang, Katibung, dan Penengahan.
Bersama anggota tim Robby Herdian dan Aswin Tama, Mahendra menemukan atmosfer tata niaga pertanian yang jauh lebih hidup dibanding musim-musim sebelumnya.
“Kami turun menyusuri delapan wilayah ini bukan untuk rutinitas seremonial.
“Saat menelusuri langsung denyut nadi mereka di tapak, tergambar jelas rasa syukur sekaligus optimisme yang menyala dari para petani,” ungkap Mahendra, yang juga menjabat sebagai Tenaga Percepatan Pembangunan (TPP) Gubernur Lampung Bidang Perindustrian dan Perdagangan, Kamis, 2 April 2026.
Harga dan Serapan Pasar
Letupan gairah sektor agraris ini, lanjut Mahendra, dipicu oleh demand shock (lonjakan permintaan) yang berdampak positif bagi produsen hulu.
Tren harga padi, jagung, dan singkong menunjukkan grafik penguatan sejak era kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Eskalasi harga tersebut kian stabil berkat manuver agresif Perum Bulog dalam menyerap gabah.
Imbasnya, mimpi buruk anjloknya harga saat panen raya perlahan terkikis.
Lebih jauh, hasil panen dari desa kini memiliki kepastian pasar karena langsung terserap untuk menopang ketahanan pangan nasional dan menyuplai kebutuhan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Rantai pasok ini menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru di pelosok.
“Hubungan timbal balik antara desa sebagai produsen dan kota sebagai konsumen kini tak lagi timpang,” jelasnya, merujuk pada teori Rural Urban Linkages.
Infrastruktur
Meski tren pasar sedang memihak, Mahendra menilai ekosistem pertanian tidak akan kokoh tanpa intervensi sarana fisik.
Di titik inilah, program Desaku Maju besutan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengambil peran strategis untuk mendongkrak kepercayaan diri warga.
Distribusi masif Pupuk Organik Cair (POC) di 500 desa yang dikombinasikan dengan instalasi mesin pengering padi (bed dryer) di 34 lokasi, dinilai ampuh menambal kelemahan klasik petani, krisis pupuk dan kerugian pasca panen akibat cuaca.
Langkah iru mendongkrak penguasaan aset fisik dan sosial masyarakat desa untuk membangun penghidupan yang berdaulat.
Efek dominonya pun langsung terasa di lapangan.
“Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) yang tadinya ragu, kini mulai berani memutar modal dan berekspansi memperluas lahan garapan.
“Di saat yang sama, Kepala Desa beserta BUMDes kian lincah memposisikan diri sebagai lokomotif kolaborasi,” papar Mahendra.
Melihat transformasi riil di akar rumput, ia memberikan apresiasi khusus terhadap arah kebijakan pusat maupun provinsi yang dinilai selaras.
“Pangan adalah fondasi peradaban bangsa, seperti yang diletakkan oleh Presiden Prabowo.
“Kami juga berterima kasih atas visi kerakyatan Gubernur Rahmat Mirzani yang eksekusinya benar-benar membumi.
“Optimisme lumbung pangan ini harus terus dikawal, karena desa yang makmur adalah kunci Indonesia yang tangguh,” tutupnya.






