Kirka – Safari kebudayaan yang gencar dilakukan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal (Mirza) ke simpul-simpul pemangku adat menyiratkan pesan bahwa kemajuan daerah tak boleh sampai menggilas tradisi.
Di mata Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, langkah tersebut jauh dari kesan basa-basi seremonial, melainkan sebuah desain utuh strategi pembangunan berbasis identitas.
Menurut Mahendra, pendekatan yang diusung Mirza sangat lekat dengan prinsip culture led development.
Konsep ini memaksa adat istiadat turun dari sekadar panggung pementasan, untuk beralih fungsi menjadi mesin penggerak roda ekonomi dan pembangunan yang inklusif.
“Gubernur secara konsisten memperlihatkan bahwa kemajuan tidak harus mengorbankan karakter daerah di tengah kepungan modernisasi,” kata Mahendra dalam ulasannya, Selasa, 14 Juli 2026.
Analisis tersebut berkaca pada visi yang berulang kali dilontarkan sang gubernur.
Mirza memang kerap mewanti-wanti jajarannya agar setiap roda kebijakan yang digulirkan pemerintah harus selalu selaras dengan kearifan lokal.
“Kita ingin Lampung maju, tetapi tetap memiliki karakter. Masyarakat makmur, tetapi tetap menjunjung tinggi adat dan budaya yang menjadi jati diri daerah,” tegas Mirza dalam berbagai kesempatan.
Penerjemahan visi itu kini mulai merambah ranah praktis.
Salah satu momentumnya terlihat saat Mirza duduk bersama lima Pangeran Sai Batin Way Handak di Mahan Agung.
Ruang dialog tersebut sengaja didesain untuk merumuskan arah pemberdayaan langsung dari aspirasi akar rumput.
Hasil konkretnya mulai terwujud dalam proyek revitalisasi 16 desa budaya.
Mahendra memandang, penghidupan kembali situs-situs bersejarah tersebut diproyeksikan bakal memicu efek domino, terutama bagi lonjakan pergerakan sektor pariwisata.
Eksekusi program ini pun digarap dengan skema hexahelix.
Sebuah pola kolaborasi lintas sektor yang mengikat pemerintah, akademisi, pelaku dunia usaha, komunitas warga, media massa, hingga aparat penegak hukum dalam satu ritme kerja.
Di sisi lain, upaya menjaga napas pembangunan juga diimbangi dengan merawat memori kepemimpinan masa lalu.
Kunjungan Mirza ke kediaman mantan Gubernur Lampung, Sjachroedin ZP, mempertegas arah kebijakan tersebut.
Bagi Mahendra, ingatan publik masih terekam kuat pada perubahan besar di era Sjachroedin.
Manuver Mirza menjemput tongkat estafet pemikiran sang senior dinilai sebagai langkah taktis.
Tujuannya sederhana, memastikan kelancaran program jangka panjang tanpa harus merombak fondasi yang sudah terbangun dengan baik.
Pada ujung ulasannya, Mahendra meyakini bahwa jalinan kolaborasi antara jajaran birokrasi, tokoh adat, dan tokoh lintas generasi ini merangkai sebuah desain kebijakan yang holistik.
Pelibatan seluruh elemen adalah prasyarat mutlak agar Lampung sanggup melesat di panggung global tanpa pernah melupakan dari mana mereka berasal.
“Pemerintah memang harus bergandengan dan berkolaborasi dengan masyarakat adat. Pembangunan sejati adalah yang melibatkan seluruh elemen,” ujar Mirza menegaskan filosofi kepemimpinannya.






