Leo Hutabarat Dinilai Terlibat Di Perkara Pasar Cendrawasih

  • Bagikan
Kirka.co
Suasana Persidangan Perkara Korupsi Padar Cendrawasih Kota Metro, Kamis 23 September 2021 di PN Tipikor Tanjungkarang, Dengan Agenda Pembacaan Pledoi Terdakwa. Foto KIRKA/Eka Putra

KIRKA – Nama Kepala Dinas Perdagangan dan Pasar Kota Metro, disebut dalam pledoi seorang terdakwa korupsi rehabilitasi pasar Cendrawasih, sebagai orang yang harus ikut bertanggungjawab dalam gagalnya proyek tersebut.

Leo M Hutabarat dianggap harus ditetapkan sebagai tersangka, pada perkara korupsi rehabilitasi pasar Cendrawasih Kota Metro, yang dimintakan segera dikembangkan oleh Kejaksaan Negeri Metro.

Baca Juga : Kadis Perdagangan Rekomendasi PPK Belum Bersertifikat

Kepala Dinas Perdagangan dan Pasar Kota Metro tersebut dianggap telah menyalahgunakan wewenangnya, lantaran membuat kebijakan semaunya dengan mengangkat pejabat PPK yang diketahui tidak bersertifikat pengadaan barang dan jasa.

Hingga pun Pejabat Pembuat Komitmen yang tidak berkompeten tersebut, akhirnya turut menjadi terdakwa di perkara korupsi ini, bersama dengan pelaksana kegiatan rehabilitasi pasar bernama Suyitno.

“Kami meminta Majelis Hakim untuk perintahkan Jaksa melakukan pengembangan serta segera periksa beberapa orang dan ditetapkan jadi tersangka baru, kami menilai harusnya Kadis tidak serta merta menyuruh Pansuri sebagai PPK, dia tidak punya sertifikasi barang dan jasa, maka dalam hal ini kami menilai Leo Hutabarat terlibat,” ujar Jhoni Widodo kepada KIRKA.CO, selaku kuasa hukum terdakwa Suyitno.

Baca Juga : Pensiunan PNS Metro Dituntut Penjara 1,5 Tahun

Dalam pledoi milik terdakwa Suyitno yang dibacakan di gelaran sidang lanjutan pada Kamis 23 September 2021 kali ini, Jhoni selaku kuasa hukumnya turut meminta kebebasan untuk kliennya tersebut.

Dengan menerakan alasan dimana terdakwa Suyitno tidak akan bisa melakukan kesalahan yang pada akhirnya dianggap perbuatan korupsi, jika tidak ada keterlibatan pihak lain yang mengatur seluruhnya sejak awal.

“Kami minta pledoi diterima seluruhnya, dan membebaskan Suyitno dari segala tuntutan, serta merehabilitasi nama baiknya, karena faktanya Suyitno ini tidak akan bisa berbuat apa apa kalau tidak ada pembiaran semacam ini, semuanya sudah diatur sejak awal,” tandasnya.

Sementara diketahui, dua terdakwa di perkara ini yaitu Pansuri dan Suyitno, telah menerima tuntutan hukuman dari Jaksa yang dibacakan pada gelaran sidang di Jumat 17 September 2021 pekan lalu.

Dimana Pansuri selaku PPK dan merupakan seorang yang berstatus ASN dituntut pidana selama 1,5 tahun penjara, dan dituntut pidana denda sebesar Rp50 juta subsidair 3 bulan penjara.

Dan terhadap Suyitno, Jaksa menuntutnya untuk menjalani hukuman pidana penjara selama 1 tahun dan 8 bulan, dengan mewajibkannya untuk membayar pidana denda sebesar Rp50 juta, dengan subsidair 3 bulan kurungan penjara.

Keduanya dinilai bersalah oleh Jaksa telah melakukan korupsi dalam kegiatan rehabilitasi Pasar Cendrawasih Kota Metro di tahun anggaran 2018, dengan mengakibatkan Kerugian Negara sebanyak Rp481.679.103,19 (empat ratus delapan puluh satu juta enam ratus tujuh puluh sembilan ribu seratus tiga rupiah sembilan belas sen).

Baca Juga : Penyidikan Perkara Pasar Cendrawasih Metro Jalan Terus

Dengan jeratan Pasal 3 juncto Pasal 18 Ayat (1) huruf-b Undang-undang Nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan Tipikor, sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tipikor, Juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.

Sementara kedua terdakwa perkara ini, akan segera disidangkan kembali pada gelaran persidangan lanjutannya pekan depan, dengan agenda pembacaan jawaban Jaksa terhadap nota pembelaan para terdakwa yang telah dibacakan hari ini.

  • Bagikan