Kirka – Indonesia dan Thailand sejatinya memiliki kesamaan letak geografis dan iklim yang berdekatan.
Namun, dalam urusan hilirisasi dan penciptaan nilai tambah komoditas singkong, Negeri Gajah Putih telah melompat jauh memimpin sebagai raja tapioka dunia.
Keberhasilan Thailand tersebut ternyata tidak diraih secara instan.
Terdapat anatomi agroindustri yang digarap serius dengan melibatkan birokrasi, akademisi, dan pihak swasta.
Fakta tersebut diungkapkan oleh Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, usai melakukan peninjauan langsung ke pusat agroindustri di Thailand pada akhir April 2026 lalu.
“Perjalanan ke Thailand kemarin bukan sekadar kunjungan seremonial.
“Kita membedah langsung bagaimana mereka mampu mengolaborasikan berbagai sektor dalam satu tarikan napas untuk memajukan agroindustri singkong,” ujar Mahendra, Selasa, 5 Mei 2026.
Mahendra memaparkan, kunci pertama hilirisasi singkong di Thailand digerakkan oleh Thai Tapioca Starch Association (TTSA).
Organisasi ini memegang peranan penting sebagai penjaga gerbang kualitas produk sekaligus stabilitas harga di pasaran.
Di tangan TTSA, singkong tidak lagi dipandang sebagai komoditas mentah murahan, melainkan diolah standarnya agar layak menjadi bahan baku industri skala global.
“Secara teoretis, merujuk pada konsep Value Chain Analysis dari Michael Porter, TTSA berhasil mengintegrasikan aktivitas logistik dan operasional para pengusaha tapioka sehingga mereka memiliki daya tawar tinggi di pasar internasional.
“Tanpa asosiasi yang kuat, petani dan pengusaha kita hanya akan menjadi pemain kecil yang terus saling sikut di pasar yang volatil,” tegasnya.
Selain manajemen pasar yang kuat, fondasi agroindustri Thailand ditopang oleh riset yang masif.
Kunjungan Mahendra ke Faculty of Agriculture, Kasetsart University membuktikan bagaimana sains diimplementasikan secara riil untuk membantu petani.
Universitas tersebut bertindak sebagai dapur yang terus meracik varietas singkong unggul, berfokus pada kadar pati tinggi dan ketahanan luar biasa terhadap penyakit.
“Para ilmuwan di sana memegang teguh prinsip bahwa efisiensi itu harus dimulai dari benih. Ini sejalan dengan teori Innovation-Driven Development.
“Mereka paham bahwa pertumbuhan ekonomi agroindustri tidak bisa lagi hanya mengandalkan ekstensifikasi atau perluasan lahan, melainkan harus fokus pada peningkatan produktivitas per hektare lewat teknologi genomik tanaman,” papar figur yang aktif mengawal sektor industri dan perdagangan di Lampung ini.
Teknologi dan Lahan Pertanian
Kesenjangan antara hasil laboratorium dan aplikasi nyata di ladang kerap menjadi masalah klasik di negara-negara berkembang.
Untuk memangkas jarak tersebut, Thailand mendirikan Thai Tapioca Development Institute (TTDI) dan Kubota Farm.
Mahendra menjelaskan, TTDI beroperasi sebagai yayasan nirlaba yang bertugas memastikan benih unggul hasil riset Kasetsart University dapat terdistribusi secara masif hingga ke tangan petani.
Sementara itu, Kubota Farm mengaplikasikan teknologi masa depan melalui Precision Agriculture (pertanian presisi).
“Penggunaan drone, traktor otomatis, dan mesin penanam canggih di sana bukan lagi fiksi ilmiah, melainkan sudah menjadi alat kerja harian.
“Mengutip pakar ekonomi pembangunan Jeffrey Sachs, pembangunan berkelanjutan itu butuh investasi besar dalam sains dan teknologi.
“Thailand membuktikan hal itu dengan melakukan mekanisasi total demi menekan biaya produksi dan meningkatkan akurasi panen,” jelasnya.
Agroindustri Lampung
Melihat sinergi apik antara pemerintah, perguruan tinggi, TTSA, TTDI, dan pelaku industri di Thailand, Mahendra mengingatkan kembali akan potensi besar Provinsi Lampung yang selama ini dikenal sebagai lumbung singkong nasional.
Sayangnya, hingga kini petani di daerah masih kerap terjebak dalam pusaran masalah klasik, harga yang sering anjlok saat panen raya dan produktivitas lahan yang cenderung stagnan.
Membangun agroindustri kelas dunia, menurutnya, bukanlah kerja tunggal melainkan sebuah orkestrasi besar yang menuntut etos kerja tinggi dan keberanian untuk berinvestasi pada teknologi modern.
“Jika Thailand bisa mengubah singkong menjadi emas melalui kolaborasi yang solid, Indonesia dan khususnya Lampung seharusnya tidak boleh lagi hanya sekadar menjadi penonton di pasar global.
“Sudah saatnya kita berhenti menanam ruko dan mulai fokus menanam masa depan agroindustri yang jauh lebih tangguh,” pungkas Mahendra.






