KIRKA – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa masuk bursa Pilpres 2024 sebagai bakal calon wakil presiden mendampingi Anies Rasyid Baswedan.
Anies Baswedan diusung sebagai bakal calon presiden di Pilpres 2024 oleh Partai NasDem, PKS, dan Partai Demokrat.
Sekretaris Jenderal PKS Aboe Bakar al-Habsyi mengatakan siapapun bisa masuk dalam bursa bakal calon wakil presiden Anies Baswedan, termasuk Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono dan politikus senior PKS Hidayat Nur Wahid.
Baca Juga: Ruangan Kerja Khofifah Indar Parawansa Digeledah KPK
Namun, jelas dia, semua berpulang pada Anies Baswedan yang rencananya akan mengumumkan bakal calon wakilnya sepulang ibadah haji.
“Sebentar lagi, pulang Anies kami rapikan,” kata Aboe Bakar di DPP PKS, Jakarta Selatan, Sabtu (1/7/2023).
Soal nama bakal calon wakil presiden yang diumumkan, Aboe masih merahasiakannya dan menyebut masih berada di kantong Anies Baswedan.
“Nanti diumumkan pada waktunya. Sudah ada di kantong (Anies Baswedan),” kata Aboe.
Bursa Pilpres 2024 akan diramaikan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.
Nama perempuan kelahiran Surabaya 19 Mei 1965 itu memang layak diperhitungkan dalam bursa Pilpres 2024.
Khofifah Indar Parawansa masuk bursa Pilpres 2024 dengan kapasitasnya sebagai kepala daerah dengan tingkat populasi penduduk yang besar, sekaligus Ketua Umum Muslimat Nahdlatul Ulama (NU).
Khofifah telah empat periode memimpin Muslimat, sayap organisasi perempuan NU dengan anggota 32 juta orang dan diyakini solid.
Baca Juga: Pulau Jawa Kunci Capres dan Cawapres Jawara Pemilu 2024
Namun, dalam berbagai kesempatan Khofifah enggan berkomentar tentang peluangnya sebagai bakal calon wakil presiden.
Belakangan nama putri mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid, Zannuba Ariffah Chafsoh (Yenny Wahid), menyeruak ke permukaan dan berpeluang sebagai bakal calon wakil presiden Anies Baswedan.
Yenny Wahid mendapat apresiasi dari Wakil Ketua Umum NasDem Ahmad Ali.
Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga Hotman Siahaan menilai sulit bagi Khofifah dan Yenny dipilih Anies karena keduanya tidak punya partai politik.
Walaupun nama mereka mengakar di kalangan Nahdliyin dan Nahdliyat, ujar Hotman, tapi keterkenalan itu bukan jaminan.
Hotman mencontohkan ketika Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi sebagai calon wakil presiden Megawati Soekarnoputri di Pemilu Presiden 2004 dan kalah oleh Susilo Bambang Yudhoyono serta Jusuf Kalla.
Baca Juga: Elektabilitas Prabowo Subianto dan Erick Thohir Moncer di Pilpres 2024
Ditambah lagi, kata Hotman, Ketua PBNU Yahya Cholil Staquf telah mengatakan bahwa NU tidak ikut politik praktis.
Di sisi lain, PKB yang secara historis dekat dengan NU telah menyatakan mengusung Muhaimin Iskandar sebagai calon presiden capres atau pun calon wakil presiden.
Peluang Khofifah Indar Parawansa dan Yenny Wahid sulit.
“Menurut saya peluang Khofifah dan Yenny sulit. Khofifah sendiri kan pernah bilang ingin tetap di Jawa Timur,” ujar Hotman.
Hotman mengatakan calon wakil presiden tidak modal nol. Tetapi harus mampu mengangkat elektabilitas calon presidennya.
Adapun dalam berbagai survei bakal calon wakil presiden, elektabilitas Khofifah dan Yenny Wahid rendah.
Selain itu, menurut Hotman, persoalan permodalan atau logistik politik juga faktor yang tak kalah penting.
“Saya melihat saat ini masih sulit. Tarik ulur bakal calon wakil presiden ini masih kuat,” tutur Hotman.
Sumber: Tempo.co






