Kirka – Di tengah dinamika kehidupan yang kerap menghadirkan situasi di luar kendali, rasa frustrasi seringkali menjadi respons utama.
Namun, masyarakat Jepang memiliki cara tersendiri untuk menjaga kewarasan melalui sebuah filosofi kuno bernama Shikata Ga Nai (仕方がない).
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, membedah makna mendalam di balik frasa tersebut.
Menurutnya, frasa yang secara harfiah berarti tidak dapat berbuat apa-apa atau tidak ada lagi yang bisa dilakukan ini kerap disalahartikan oleh banyak pihak.
“Banyak yang keliru mengartikan Shikata Ga Nai sebagai sikap pasrah yang lemah.
“Padahal, esensinya bukan tentang menyerah, melainkan tentang kebijaksanaan untuk membedakan antara apa yang bisa dan tidak bisa kita ubah,” ujar Mahendra Utama, Senin, 2 Maret 2026.
Sosok yang akrab disapa Bang Mahe ini menjelaskan, filosofi tersebut menekankan pada penerimaan atas kenyataan pahit yang tak terhindarkan.
Dengan menerima keadaan, energi seseorang tidak akan terkuras habis untuk meratap.
“Energi itu justru bisa difokuskan untuk membangun kembali kehidupan.
“Ini adalah langkah pertama menuju resiliensi atau kemampuan untuk bangkit kembali dari keterpurukan,” tegasnya.
Sejarah dan Geografis
Menilik sejarahnya, Mahendra memaparkan bahwa Shikata Ga Nai sering menjadi tameng mental bagi masyarakat Jepang pasca tragedi besar.
Ungkapan itu mengemuka saat Jepang menghadapi kekalahan di Perang Dunia II, peristiwa bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, hingga bencana tsunami Fukushima pada tahun 2011 lalu.
Kondisi tersebut tak lepas dari faktor geografis.
Negeri Sakura yang terbiasa dilanda gempa, tsunami, dan topan membuat masyarakatnya sadar akan kekuatan alam yang mutlak dan tidak bisa dilawan.
“Shikata Ga Nai lahir sebagai mekanisme pertahanan diri kolektif.
“Bukan soal meratapi takdir buruk, melainkan cara bertahan hidup agar tidak gila karena dilanda ketakutan terus-menerus,” urainya.
Kearifan Lokal Nusantara
Menariknya, Mahendra juga menarik benang merah antara filosofi Jepang tersebut dengan kearifan lokal yang ada di Indonesia.
Menurutnya, budaya Nusantara memiliki konsep ketahanan mental yang serupa namun dengan pendekatan yang sedikit berbeda.
Dalam filosofi suku Jawa, ia mencontohkan adanya konsep Nrimo ing pandum (menerima dengan ikhlas) dan Sabar.
“Bedanya, jika Shikata Ga Nai lebih fokus pada situasi darurat dan bencana alam, Nrimo lebih mengarah pada penerimaan hidup secara filosofis dan spiritual,” jelas Mahendra.
Sementara itu, untuk budaya masyarakat Lampung, ia melihat adanya irisan nilai dengan prinsip Piil Pesenggiri (harga diri).
“Meski tidak ada padanan kata yang persis, Piil Pesenggiri mengajarkan masyarakatnya untuk tetap tegar menjaga martabat saat terpuruk.
“Semangatnya sangat mirip dengan Shikata Ga Nai yang menjaga kehormatan di tengah tragedi,” paparnya.
Mahendra pun mengingatkan bahwa Shikata Ga Nai mengajarkan seni untuk berhenti sejenak di era modern yang serba cepat, serta mengajak manusia untuk berdamai dengan masa lalu agar bisa melangkah ke masa depan.
“Namun kita juga harus bijak. Jangan sampai filosofi ini justru membuat kita menjadi apatis.
“Gunakan ia sebagai bantalan saat jatuh, lalu setelahnya, segera bangkit dan bertindak,” pungkas Mahendra Utama.






