Opini  

Daun yang Terbang, Akar yang Terlupa, Karya: Mahendra Utama

Daun yang Terbang, Akar yang Terlupa, Karya: Mahendra Utama
Ilustrasi: Ironi buruh tembakau Jember. Hasil bumi terbang melanglang buana ke Eropa, namun kesejahteraan petaninya masih jauh dari harapan. Foto: Arsip DBS/Kirka/I

Kirka – Puisi Daun yang Terbang, Akar yang Terlupa merupakan sebuah kritik sosial yang tajam mengenai ketimpangan dalam industri tembakau cerutu di Jember.

Paragraf pertama dari gagasan puisi ini menyoroti kontras yang ironis antara kemewahan global dan kemiskinan lokal.

Daun tembakau Jember yang berkualitas tinggi (dikenal dengan aroma Besoeki) diekspor ke Eropa dan menghasilkan devisa triliunan rupiah bagi negara.

Namun, kekayaan tersebut seolah terbang ke luar negeri dan sekadar singgah di Jember.

Di sisi lain, para pekerja kebun yang diibaratkan sebagai akar dan mayoritas adalah perempuan justru dilupakan.

Mereka bekerja keras hingga punggung melengkung namun hanya menerima upah yang sekadar cukup untuk mengobati rasa lelah, membiarkan kemiskinan menjadi warisan yang turun-temurun.

Selain itu, puisi ini menggunakan nada satir untuk mengkritik kebijakan korporat dan pemerintah yang dinilai hipokrit.

Penulis menyentil istilah-istilah mentereng seperti Standar Operasional Prosedur (SOP), traceability (keterlacakan), hingga wacana hilirisasi.

Semua itu digambarkan sebagai retorika manis di ruang rapat yang berfokus pada kesempurnaan produk (wrapper cerutu), tetapi mengabaikan hak-hak dasar pekerjanya.

Fasilitas kesehatan ibu dan anak, gizi, hingga transparansi bagi hasil dan insentif hanyalah ilusi bagi para petani.

Pada akhirnya, puisi ini mempertanyakan moralitas dari sebuah sistem di mana alam begitu subur memberikan kekayaan, namun kebijakan yang ada gagal menyuburkan kesejahteraan dan martabat manusianya.

 

Daun yang Terbang, Akar yang Terlupa, Karya: Mahendra Utama

 

Hamparan hijau di Jember membentang sejarah

daun-daun memeluk asap cerutu,

dikirim ke Bremen, ke Eropa,

membungkus lidah-lidah asing dengan aroma “Besoeki”.

 

Alam memberi warna, rasa, bakar yang halus.

Tapi lihatlah:

musim bergulir, harga berayun,

dan perempuan-perempuan kebun

pulang dengan punggung melengkung,

upah sekadar obat letih.

 

PTPN menjaga mutu, kata mereka.

Ekspor ribuan ton, devisa mengalun ke negara.

Lalu lintas uang dari Ajong Gayasan ke neraca,

tapi di Kertosari, rapuh masih menjadi warisan turun-temurun.

 

Oh, bijak sekali standar kerja itu:

kesehatan ibu-anak hanya wacana,

penitipan anak musiman masih mimpi,

dan gizi ah, nanti dulu,

yang penting wrapper kelas dunia tetap mulus.

 

SOP dan traceability diperbarui,

tapi bagi hasil? Insentif mutu?

Transparansi itu daun yang terbang terbawa angin,

tak pernah jatuh ke tangan pemetik.

 

Hilirisasi lokal, nilai tambah di Jember

kata manis yang diulang dalam rapat.

Gudang grading, lelang mandiri,

seakan janji pada kampung,

tapi lihat lagi:

uang mengalir, Jember hanya singgah.

 

Devisa US$929 juta dari Jawa Timur,

tapi berapa yang tinggal di saku perempuan kebun?

Mereka menghitung daun satu per satu,

sementara cerutu dinikmati di benua lain.

 

Alam Jember subur, setia memberi.

Tapi kebijakan tak pernah menyuburkan manusia.

Warisan tembakau ini mungkin abadi,

tapi martabat petani kenapa selalu tergadai?

 

 

Catatan:

 

Puisi ditulis atas penghargaan dari loyalitas para pekerja Tembakau Cerutu Jember di Kebun Tembakau PTPN.

 

Penulis, Mahendra Utama, adalah Pemerhati Pembangunan asal Lampung, TPP Gubernur Lampung Bidang Perindustrian dan Perdagangan, Preskom PT Deli Megapolitan Kawasan Bisnis sejak Juli 2020, serta Komisaris PT Mitratani Dua Tujuh sejak Juli 2023–Desember 2025.