Opini  

Dari Mimpi Menjadi Realita: Membangun Negeri dengan Formula “Dream It, Believe It, Build It”

Dari Mimpi Menjadi Realita: Membangun Negeri dengan Formula "Dream It, Believe It, Build It"
Ilustrasi: Dari setiap lokasi konstruksi, mimpi Indonesia maju sedang diwujudkan. Foto: Arsip Wiki/DBS/Kirka/I

Kirka – Tantangan terbesar bangsa Indonesia saat ini bukan sekadar merumuskan visi, melainkan bagaimana menjembatani impian dan keyakinan tersebut melalui kerja nyata di lapangan.

Hal itu ditegaskan oleh Pemerhati Pembangunan asal Lampung, Mahendra Utama, saat menyoroti dinamika tata kelola pembangunan nasional dan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) di Indonesia.

Menurutnya, kutipan populer dream it, believe it, build it harus berhenti menjadi sekadar jargon media sosial dan mulai diterapkan sebagai pedoman kerja yang konkret.

“Tidak cukup hanya bermimpi dan percaya. Di negara yang sedang bergelut dengan problem SDM, ketiga elemen ini harus dieksekusi.

“Ini bukan sekadar afirmasi pasif, tapi fondasi untuk membangun peradaban,” ujar Mahendra di Bandarlampung, Sabtu, 14 Maret 2026.

Eksponen 98 yang akrab disapa Bang Mahe ini kemudian membedah ketiga fase tersebut dari kacamata pembangunan.

Pada tahap pertama, Dream It (bermimpi), ia menjelaskan bahwa mimpi adalah peta awal yang krusial.

Namun, ia mewanti-wanti adanya jebakan psikologis di mana banyak pihak merasa puas hanya dengan mengumumkan rencana ke publik.

Merujuk pada sejumlah pandangan psikolog klinis, Mahendra mengingatkan bahwa keberhasilan sebuah rancangan sangat bergantung pada proses eksekusinya.

“Banyak yang merasa seolah separuh pekerjaan selesai hanya dengan mengakuinya. Padahal, impian yang berhenti di angan-angan tidak akan menghasilkan apa pun,” tegasnya.

Masuk pada fase kedua, Believe It (yakini), Mahendra menggarisbawahi pentingnya self-efficacy atau keyakinan diri yang kuat agar bisa konsisten dan gigih.

Ia mencontohkan sosok Presiden ke-3 RI, B.J. Habibie, yang memiliki keyakinan tak tergoyahkan untuk membangun industri kedirgantaraan nasional meski kerap diremehkan berbagai pihak.

“Percaya diri tanpa aksi hanyalah fantasi. Tren manifesting yang populer saat ini memang bagus untuk memfokuskan otak pada tujuan, tapi tanpa tindakan nyata, itu sia-sia,” imbuhnya.

Fase paling krusial, menurut Mahendra, berada di tahap akhir yakni Build It (membangun).

Di sinilah ide dan keyakinan harus berbenturan dengan keringat, data, fakta, dan kerja di lapangan.

Dalam konteks skala nasional, Mahendra melihat Indonesia kerap tersendat di fase eksekusi ini.

Meski memiliki impian besar menjadi negara maju dan lepas dari jebakan kelas menengah (middle-income trap), jalannya pembangunan kerap terbentur realita.

“Selama ini kita sering tersendat di tahap build. Terlalu banyak proyek yang akhirnya hanya tinggal wacana, anggaran yang tidak tepat sasaran, dan sumber daya yang terbuang percuma karena lemahnya eksekusi di hilir,” sorot pria yang juga menjabat sebagai TPP Gubernur Lampung Bidang Perindag itu.

Membangun Indonesia, lanjutnya, membutuhkan komitmen dan keberanian untuk memulai langkah konkret.

Ia turut mengutip pesan proklamator Bung Karno tentang bahayanya rasa malu dan takut untuk berbuat kebaikan, yang dinilainya sebagai musuh utama dari fase build it.

“Bagi kita, dream it adalah tanggung jawab intelektual, believe it adalah tanggung jawab spiritual, dan build it adalah tanggung jawab fisik.

“Saat ketiganya menyatu dalam eksekusi yang nyata, tidak ada yang tidak mungkin diraih untuk kemajuan negeri ini,” pungkasnya.