Opini  

Reset, Restart, Refocus: Strategi Bangkit dari Krisis yang Tak Bisa Diabaikan

Reset, Restart, Refocus: Strategi Bangkit dari Krisis yang Tak Bisa Diabaikan
Potret Mahendra Utama, Pemerhati Pembangunan, dengan visi strategi RESET, RESTART, REFOCUS untuk pemulihan pembangunan. Foto: Arsip Pribadi/Kirka/I

Kirka – Pandemi 2020 lalu telah memaksa dunia untuk berhenti sejenak.

Namun, di tengah kepungan ketidakpastian yang masih terasa efeknya hingga kini, sebuah strategi adaptasi menjadi kunci untuk bertahan hidup, reset, restart, dan refocus.

Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menegaskan bahwa ketiga langkah tersebut bukan sekadar slogan manis, melainkan peta jalan nyata yang wajib diadopsi oleh individu maupun institusi yang ingin bangkit dari krisis.

Menurut Mahendra, di era di mana dunia bergerak secara eksponensial, kemampuan untuk beradaptasi bukan lagi sebuah pilihan, melainkan keharusan mutlak.

“Filosofi reset, restart, refocus adalah aplikasi nyata dalam merakit ulang makna saat krisis menghancurkan tatanan yang lama.

“Sayangnya di Indonesia, hal ini seringkali hanya berhenti sebagai wacana atau jargon,” ujar Mahendra, Sabtu, 28 Maret 2026.

Mahendra kemudian merinci bagaimana ketiga pilar strategi ini harus diimplementasikan agar tak sekadar menjadi teori di atas kertas.

1. Berani Membongkar Sistem Usang (Reset)

Tahap pertama, kata Mahendra, menuntut keberanian yang besar untuk berhenti dan mengevaluasi.

Mengacu pada konsep pembelajaran double loop dari Chris Argyris, ia menyebut bahwa pembelajaran sejati baru terjadi ketika seseorang atau institusi berani mempertanyakan asumsi dasarnya, bukan sekadar menambal kesalahan di kerangka sistem yang sudah usang.

“Seperti yang ditegaskan pakar manajemen Peter Drucker, hal yang paling sia-sia adalah mengerjakan sesuatu dengan sangat efisien, padahal hal itu sama sekali tidak perlu dikerjakan.

“Fase reset ini adalah ruang kebebasan kita untuk mengevaluasi stimulus sebelum memberikan respons,” jelasnya.

2. Memulai Kembali dengan Visi Baru (Restart)

Setelah berani mereset tatanan lama, langkah berikutnya adalah memulai ulang (restart).

Mahendra menggarisbawahi bahwa restart tidak sama dengan kembali ke titik nol, melainkan permulaan baru yang dibangun dari hasil pembelajaran.

Dalam dunia bisnis moderen, Mahendra menyamakannya dengan istilah pivot dari Eric Ries, mengubah arah pergerakan tanpa harus mengorbankan visi utama.

“Memulai ulang butuh keberanian untuk merangkul ketidakpastian di masa depan.

“Kita merancang peta jalan yang lebih tangguh, meskipun hasil akhirnya belum sepenuhnya bisa kita kontrol,” tambah Mahendra.

3. Disiplin Menjaga Arah Utama (Refocus)

Pada tahap akhir, seluruh energi yang telah dikumpulkan pada fase reset dan restart akan tercerai-berai jika tidak ada fokus yang tajam.

Fase refocus membutuhkan disiplin tingkat tinggi untuk berani berkata tidak pada peluang atau gangguan yang tidak selaras dengan misi utama.

“Dalam manajemen, ini disebut menjaga core competency atau keunggulan utama secara mati-matian.

“Tujuannya adalah mencapai kondisi optimal di mana seluruh perhatian kita tertuju sepenuhnya pada hal-hal yang bermakna dan berdampak,” urai Mahendra.

Di akhir, Mahendra Utama memberikan peringatan keras terkait perencanaan pembangunan ke depan, khususnya di fase pemulihan pasca krisis.

Menurutnya, tantangan terbesar saat ini adalah mengubah wacana menjadi praktik nyata.

“Kini pertanyaannya kembali kepada kita. Apakah kita mau melakukan reset, restart, refocus ini dengan sadar dan terencana, atau pasrah sekadar terbawa arus perubahan zaman,” pungkasnya.