Kirka – Keberhasilan program hilirisasi pertanian di Provinsi Lampung dinilai sangat bergantung pada mulusnya infrastruktur jalan raya dan ketersediaan teknologi pengolahan hasil panen.
Tanpa kedua pilar penyokong jalur logistik dan area produksi, cita-cita menyejahterakan petani di kawasan agraris hanya akan jalan di tempat.
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama menyatakan, keputusan Gubernur Rahmat Mirzani Djausal memprioritaskan perbaikan aspal sejurus dengan pembagian alat pertanian ke 500 desa merupakan kebijakan yang tepat sasaran.
Membicarakan hilirisasi tanpa membenahi akses transportasi ibarat memacu mobil sport di rute hancur.
Potensinya besar, namun mesin dipastikan rontok sebelum mencapai garis finis.
“Sesuai penegasan Gubernur Mirza, kalau mau petani sejahtera, akses jalan wajib dibenahi lebih dulu.
“Biarpun harga komoditas sedang tinggi, petani tetap merugi kalau ongkos angkut membengkak gara-gara jalannya rusak,” kata Mahendra di Bandarlampung, Rabu, 19 Agustus 2026.
Demi menuntaskan persoalan infrastruktur darurat, Pemerintah Provinsi Lampung berencana mengajukan pinjaman dana senilai Rp1 triliun.
Manuver meminjam modal dianggap logis agar distribusi hasil bumi kembali lancar serta putaran ekonomi lokal tidak terus-terusan tersendat.
Pembenahan fisik rupanya langsung dibarengi intervensi teknologi ke akar rumput.
Ratusan kelompok tani mulai menerima bantuan berupa Rice Milling Unit (RMU) Mini, mesin pencacah jagung, alat pembuat pelet ternak, hingga pengering mekanis raksasa atau Bed Dryer.
Fasilitas Bed Dryer terbukti ampuh menyelamatkan gabah saat musim penghujan merendam wilayah pertanian.
Para petani kini memiliki pilihan untuk menahan stok dengan aman, lalu baru menjualnya ke pasar kala harga kembali normal.
Mahendra membedah kebijakan Pemprov Lampung melalui kacamata Teori Inovasi Joseph Schumpeter.
Konsep ekonomi klasik meyakini laju pertumbuhan suatu kawasan sangat dipengaruhi oleh terobosan teknologi serta penguatan kelembagaan di tingkat tapak.
Praktiknya di lapangan mulai memperlihatkan hasil positif.
Kehadiran RMU Mini perlahan mengubah pola kerja tradisional.
Petani sekarang punya daya tawar menjual beras kualitas premium, alih-alih sekadar pasrah melepas gabah mentah ke tengkulak dengan harga murah.
Serupa halnya dengan pemanfaatan mesin pencacah jagung dan pencetak pelet yang perlahan membuka jalan bagi kemandirian industri pakan ternak skala desa.
“Pola pendekatan pemerintah bermuara pada pembentukan ekosistem ekonomi sirkular.
“Targetnya, petani tidak boleh sekadar fokus berproduksi, mereka wajib menikmati nilai tambah pascapanen demi memutus rantai kemiskinan,” pungkas Mahendra.






