Petani Lampung Makin Sejahtera di September 2026, Petani Perkebunan dan Hortikultura Nikmati Durian Runtuh

Petani Lampung Makin Sejahtera di September 2026, Petani Perkebunan dan Hortikultura Nikmati Durian Runtuh
Kesejahteraan petani Lampung meningkat pada September 2026. Angka Nilai Tukar Petani (NTP) sukses menyentuh 137,63, naik 2,09 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Foto: Arsip BPS/Kirka/Iz

Kirka – Tingkat kesejahteraan petani Provinsi Lampung menunjukkan tren positif pada penutupan kuartal ketiga 2026.

Dilansir pada Jumat, 2 Oktober 2026, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) menyentuh level 137,63 pada September 2026, merangkak naik 2,09 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Kenaikan daya beli masyarakat desa terjadi lantaran harga jual panen melambung lebih tinggi ketimbang ongkos produksi maupun biaya hidup sehari-hari.

Indeks Harga yang Diterima Petani (It) tercatat melonjak 2,25 persen menjadi 179,19.

Angka penerimaan sukses melampaui Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) yang hanya terkerek tipis 0,16 persen di level 130,20.

Tiga komoditas tampil sebagai pahlawan pengerek pendapatan.

Lonjakan harga cabai merah, karet, dan ketela pohon berhasil mempertebal margin keuntungan dari hulu ke hilir.

Walaupun di sisi lain, warga pedesaan tetap harus merogoh kocek lebih dalam untuk menebus tingginya harga beras dan BBM jenis solar.

Bila dibedah berdasarkan subsektor, petani hortikultura menjadi kelompok paling diuntungkan.

NTP subsektor sayur dan buah terbang 4,55 persen menyentuh angka 132,80.

Menyusul di posisi kedua, para pekebun rakyat ikut menikmati margin lumayan lewat pertumbuhan NTP sebesar 2,39 persen menjadi 173,74.

Kelompok tanaman pangan dan nelayan tangkap turut mencicipi tren serupa.

Keduanya membukukan pertumbuhan masing-masing 2,03 persen dan 1,94 persen.

Sebaliknya, nasib kurang mujur justru dialami para peternak.

Subsektor peternakan tampil sebagai satu-satunya penyumbang rapor merah setelah angkanya anjlok 0,81 persen ke level 98,14.

Situasi kontras sektor peternakan menjadi anomali di tengah melesatnya daya beli mayoritas pelaku usaha tani.

Secara agregat, potret statistik September memberi sinyal perbaikan roda perputaran uang di sentra-sentra pertanian Bumi Ruwa Jurai.