Kirka – Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih baru setelah Amerika Serikat dan Israel resmi melancarkan serangan beruntun ke wilayah Iran.
Di tengah kekhawatiran pecahnya Perang Dunia III, Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menyoroti analisis tajam dari akademisi China, Profesor Jiang Xueqin, yang memprediksi skenario kekalahan AS dalam konflik tersebut.
Menurut Mahendra, analisis Prof Jiang memberikan sudut pandang realistis bahwa perang di abad ke-21 tidak akan dimenangkan semata-mata oleh negara dengan anggaran militer terbesar, melainkan oleh negara yang memiliki kapasitas industri perang berkelanjutan.
“AS saat ini dinilai masih terjebak pada doktrin usang shock and awe, yakni strategi serangan kilat untuk memenggal pucuk pimpinan musuh.
“Padahal, bagi Iran, ini dipandang sebagai perang agama dan eksistensial.
“Gugurnya seorang pemimpin justru akan memicu perlawanan yang lebih masif dan gigih,” ujar Mahendra Utama, merujuk pada analisis Jiang, Jumat, 6 Maret 2026.
Lebih lanjut, Mahendra menyoroti kelemahan struktural pada rantai pasok militer Amerika Serikat.
Ia menjelaskan bahwa basis industri pertahanan AS banyak yang telah direlokasi, membuat produksi amunisi untuk perang jangka panjang menjadi tantangan berat.
Ironi ini sudah terlihat dari bagaimana AS dan sekutunya mulai kewalahan menyokong pasokan senjata ke Ukraina.
Sebaliknya, Iran dinilai telah membangun industri pertahanan mandiri yang mampu memproduksi drone dan rudal secara massal.
Namun, ancaman terbesarnya bukanlah benturan militer langsung, melainkan lumpuhnya urat nadi ekonomi dunia.
“Jika perang ini berkepanjangan, Iran memegang kartu truf berupa penutupan Selat Hormuz.
“Itu bukan sekadar selat biasa, melainkan jalur utama distribusi minyak dunia. Jika ditutup, ekonomi global otomatis tercekik,” jelas Mahendra.
Dampaknya pun sudah mulai terasa di depan mata.
Harga minyak mentah Brent di pasar Asia melonjak tajam hingga 13 persen, menembus angka 80 dolar AS per barel hanya dalam hitungan hari sejak ketegangan meningkat.
Perang adalah Skenario Kalah-Kalah
Untuk memperkuat argumennya, Mahendra juga mengutip hasil studi komprehensif dari Efraim Benmelech, profesor finansial dari Kellogg School of Management.
Dari penelitian terhadap 135 perang di 115 negara (1946-2023), ditemukan fakta bahwa perang secara konsisten menghancurkan struktur ekonomi secara masif.
“Data menunjukkan perang memicu penurunan PDB riil hingga 13 persen, investasi anjlok, dan mendorong inflasi yang efeknya bisa bertahan hingga 10 tahun.
“Pada akhirnya, perang adalah skenario kalah-kalah. Yang paling menderita selalu rakyat biasa akibat melonjaknya biaya hidup,” tegas Mahendra.
Ketahanan Nasional
Merespons efek domino dari konflik geopolitik ini, Mahendra Utama mengingatkan bahwa program ketahanan nasional yang digagas pemerintah Indonesia bukan lagi sekadar slogan, melainkan kebutuhan mendesak untuk bertahan hidup.
Ia sependapat dengan fokus Presiden Prabowo Subianto yang sebelumnya telah membahas implikasi konflik ini terhadap keamanan pasokan energi dan ekonomi domestik.
Di tengah ketidakpastian jalur logistik global, program swasembada pangan dan energi harus dikawal ketat.
“Keberhasilan Indonesia mencatatkan cadangan beras nasional menembus 4 juta ton pada 2025 adalah langkah vital. Itu adalah benteng pertahanan pertama kita,” ungkapnya.
Selain pangan, kemandirian energi dengan memangkas ketergantungan impor dan memaksimalkan kapasitas kilang domestik menjadi urat nadi kedua yang harus segera diperkuat.
“Pelajaran terpenting dari analisis ini adalah, di era globalisasi, tidak ada perang yang benar-benar bersifat lokal.
“Setiap rudal yang melesat tidak hanya menghancurkan sasaran fisiknya, tapi juga menghantam peta ekonomi global dan piring makan keluarga di belahan dunia lain.
“Membangun ketahanan di dalam negeri adalah langkah paling rasional saat ini,” pungkas Mahendra.






