Sosok  

No Viral, No Justice: Untuk Sobatku Cak Sholeh

No Viral, No Justice: Untuk Sobatku Cak Sholeh
Mahendra Utama Mengenang Perjuangan Cak Sholeh: No Viral, No Justice. Foto: Arsip pribadi/Kirka

Kirka – Judul di atas adalah puisi yang merupakan sebuah elegi atau sajak penghormatan yang didedikasikan untuk mendiang Muhammad Sholeh (akrab disapa Cak Sholeh), seorang aktivis dan advokat asal Jawa Timur yang berpulang pada 7 Agustus karena penyakit autoimun.

Ditulis oleh rekan seperjuangannya, Mahendra Utama, puisi ini merekam jejak panjang Cak Sholeh, mulai dari masa perjuangan ekstra-parlementer yang membuatnya merasakan Penjara Kalisosok, turun ke jalanan untuk berdemonstrasi, hingga akhirnya berjuang secara formal di ruang sidang.

Mahendra menggambarkan Cak Sholeh sebagai sosok pejuang gigih yang mendedikasikan hidupnya untuk membela masyarakat kecil.

Inti dari puisi ini menyoroti warisan pemikiran dan kritik terbesar Cak Sholeh terhadap sistem hukum di Indonesia yang terangkum dalam slogan “No Viral, No Justice”.

Bait-baitnya membedah realitas ironis di mana penegakan hukum seringkali lamban, tebang pilih, dan baru bergerak cepat apabila sebuah kasus sudah mendapat atensi luas atau viral di media sosial.

Puisi ini juga menekankan bahwa keadilan seharusnya menjadi hak mutlak yang tak perlu menunggu “ramai”, namun fakta di lapangan menunjukkan bahwa viralitas seolah menjadi kunci utama bagi rakyat kecil untuk mendapatkan hak hukumnya.

Mahendra juga mengagumi cara almarhum yang “membajak ruang digital” dan menjadikan warung kopi biasa sebagai meja konsultasi hukum yang inklusif, tanpa sekat birokrasi maupun jarak dengan rakyat.

Di akhir puisi, selain mengirimkan doa perpisahan menuju tempat peristirahatan terakhirnya di Singa Putih, Prigen, penulis menegaskan bahwa Cak Sholeh meninggalkan sebuah pertanyaan reflektif yang menampar sistem peradilan negara, “Mengapa keadilan butuh algoritma dan emosi massa?”

Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi kawan-kawan PRD dan masyarakat luas, namun semangat perlawanannya akan terus abadi.

 

No Viral, No Justice: Untuk Sobatku Cak Sholeh

 

Di dini buta tujuh Agustus fajar,

Jawa Timur kehilangan sang jagal pejuang,

Autoimun merenggut, namun semangat tak padam,

Cak Sholeh pulang, meninggalkan gema yang terang.

Dari Kalisosok ke ruang sidang,

Dari jalanan demo hingga layar genggam,

Slogan lantang: “No Viral, No Justice” —

Kritik tajam pada hukum yang lamban dan gamang.

Keadilan tak layak menunggu ramai,

Namun fakta berkata, viral jadi kunci hak,

Kesenjangan nyata, respons pun tertegun,

Sistem responsif rindu pada panggilan akrab.

Kau bajak digital, warung kopi jadi meja,

Konsultasi rakyat tanpa sekat dan jarak,

Warisanmu: tanya reflektif bagi negeri,

Mengapa keadilan butuh algoritma dan emosi massa?

Kini kau tenang di Singa Putih, Prigen,

Doa kami iringi, cahaya kuburmu terang,

Perjuanganmu abadi, wahai saudara seperjuangan,

PRD Lampung kenang, Jatim rindu, Indonesia menangis terharu.

 

Mahendra Utama

Ketua KPW PRD Lampung 1999