Kirka – Gegap gempita keberhasilan pemerintah merengkuh swasembada pangan dan memperkuat sistem pertahanan nasional ternyata masih memendam ironi di akar rumput.
Di balik deretan pencapaian makro tersebut, kelas pekerja justru kian terhimpit krisis hunian, sementara ruang keluarga berstatus darurat akibat paparan judi online pada anak-anak.
Realitas kontradiktif ini menjadi sorotan serius Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama.
Ia menegaskan bahwa indikator kemajuan bangsa pantang hanya diukur dari angka-angka berskala besar, meski Indonesia terbukti tangguh mematahkan pesimisme pihak asing lewat berbagai manuver strategis.
Ketergantungan pada impor beras yang bertahun-tahun menjadi titik lemah, kini perlahan terkikis.
Kabinet Merah Putih bahkan berani memproyeksikan ekspor beras hingga 500 ribu ton ke depan.
“Keberhasilan menuju swasembada tersebut amat penting. Apalagi saat disandingkan dengan langkah taktis memperkuat kedaulatan udara lewat pengadaan jet tempur Rafale.
“Ini membuktikan pemerintah paham betul korelasi erat antara ketahanan pangan dan pertahanan nasional,” ujar Mahendra, Selasa, 26 Mei 2026.
Hunian Pekerja
Meski mengapresiasi lompatan makro di atas, ia mengingatkan adanya tumpukan beban pada sektor riil domestik.
Salah satu sorotan tajamnya tertuju pada hak dasar kelayakan tempat tinggal.
Memiliki rumah kini perlahan bergeser menjadi kemewahan yang kian mustahil dijangkau kalangan pekerja.
Mengacu pada data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai krisis hunian global, pemenuhan papan bagi warga merupakan persoalan mendesak yang butuh intervensi konkret negara.
Mahendra menaruh harapan besar agar pemerintah mampu melahirkan kebijakan perumahan lintas sektoral yang tepat sasaran.
Pertumbuhan ekonomi, tegasnya, haram meninggalkan kelompok masyarakat stratum bawah.
“Kita harus memanggil kembali semangat keadilan sosial yang dulu lantang disuarakan oleh tokoh-tokoh buruh seperti Marsinah.
“Intinya satu, pembangunan itu mutlak harus memanusiakan manusianya,” urainya.
Judi Online
Di luar urusan perut dan atap pelindung, ancaman kontemporer terbukti sukses menyusup ke ruang paling privat melalui layar gawai.
Tingginya penetrasi judi online terhadap anak di bawah umur merupakan alarm keras bagi rapuhnya ketahanan sosial saat ini.
Dari kacamata sosiologi komunikasi, adopsi teknologi tanpa imbangan literasi digital yang mumpuni berisiko menjerumuskan generasi muda ke jurang digital dystopia.
Aparat penegak hukum memang dituntut bertindak represif memberantas sindikat, namun regulasi semata tidak akan pernah cukup.
“Penindakan hukum mutlak didukung penuh. Tapi mari kita ingat, benteng pertahanan paling kokoh tetaplah edukasi digital di dalam rumah tangga masing-masing,” papar Mahendra.
Pada akhirnya, optimisme menuju visi Indonesia Emas bukanlah sekadar jargon kosong, melainkan peta jalan yang harus ditenun bersama lewat ketegasan pemimpin dan kepekaan sosial.
“Pembangunan sebuah bangsa akan kehilangan makna jika kita gagal menyediakan rumah yang layak dan ruang digital yang aman bagi masa depan anak-anak kita,” pungkasnya.






