Survei Bloomberg Sebut Indonesia Berisiko Rendah Resesi

Survei Bloomberg Sebut Indonesia Berisiko Rendah Resesi
Ilustrasi: Shutterstock.com

Posisi kedua, New Zealand dengan probabilitas 33 persen. Korea dan Jepang menyimpan risiko resesi dengan probabilitas masing-masing 25 persen.

Itu lebih tinggi dari Tiongkok, Hongkong, Taiwan, Australia, dan Pakistan yang masing-masing 20 persen.

Negara jiran Malaysia memiliki peluang risiko resesi 13 persen, Thailand, Australia, dan Taiwan  disebut berpeluang 20 persen. Filipina 8 persen.

“Indonesia pada peringkat 14 dengan probabilitas masuk krisis 3 persen. Yang terendah India nol persen,” kata Sri Mulyani.

Dia menambahkan, hasil survei tersebut menunjukkan indikator ekonomi Indonesia jauh lebih baik dari negara-negara lain yang peluang resesinya lebih tinggi.

“Itu dapat menggambarkan bahwa dari indikator neraca pembayaran kita, APBN kita, ketahanan GDP kita, dan juga dari sisi korporasi maupun dari rumah tangga serta monetery policy kita, relatif dalam situasi yang tadi disebutkan, risikonya tiga persen dibandingkan negara lain yang potensi untuk bisa mengalami resesi jauh di atas kita,” ujar Sri Mulyani.

Kondisi Indonesia, katanya pula, berbeda dari Sri Lanka, sehingga risikonya resesinya dinilai jauh lebih rendah.

Kendati demikian, Indonesia masih tetap harus waspada terhadap potensi resesi yang masih dapat terjadi.

Pasalnya, saat ini negara-negara di dunia masih dibayangi hantu resesi dan kenaikan inflasi.

Sikap waspada harus terus dicanangkan, tutur Menkeu, karena situasi rawan ini akan berlangsung sampai 2023.

Risiko inflasi dan resesi, atau stagflasi sangat riil, dan akan menjadi salah satu topik pembahasan di forum G20.

“Namun message-nya adalah kita tetap akan menggunakan semua instrumen kebijakan kita,” kata Menkeu Sri Mulyani.

Dia menambahkan, sejak terjadi krisis ekonomi 2008–2009, sektor keuangan Indonesia menjadi jauh lebih hati-hati.

Kini nonperforming loan (NPL) tetap terjaga serta eksposur pinjaman luar negeri turun.

“Artinya, belajar dari krisis global itu, sektor korporasi, financial, APBN, dan moneter, semuanya mencoba memperkuat diri untuk menghadapi risiko. Sekarang kita dalam situasi daya tahan masih lebih baik makanya kita disebut rating-nya lebih kecil,” tambahnya.

Secara umum, menurut survei Bloomberg Indonesia berisiko rendah resesi.

Risiko resesi di Asia sebesar 20-25 persen, AS sekitar 38 persen, dan negara-negara Eropa 50-55 persen.

Indikatornya, antara lain, jumlah izin bangunan baru yang dikeluarkan pemerintah, indeks kepercayaan konsumen, serta hasil bersih dari surat berharga yang dikeluarkan oleh negara.

Baca Juga : Jalan Baru UMKM Kopi Lampung Barat 

Resesi sendiri adalah hal yang sering terjadi di dunia. Pada 2020, hampir semua negara di dunia mengalami resesi, termasuk Indonesia yang mengalami pertumbuhan PDB negara di kuartal II dan III.

Perlu upaya ekstra keras untuk membalikkan keadaan menjadi positif. Tapi, rupanya dampak resesi dunia itu bisa berkepanjangan.