Survei Bloomberg Sebut Indonesia Berisiko Rendah Resesi

Survei Bloomberg Sebut Indonesia Berisiko Rendah Resesi
Ilustrasi: Shutterstock.com

KIRKA – Hasil survei Bloomberg sebut Indonesia berisiko rendah resesi.

Pada 2023, risiko AS menghadapi resesi sebesar 38 persen, negara-negara Eropa 50-55 persen, dan Asia 20-25 persen.

Baca Juga : Efek Basis dalam Lompatan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Di Indonesia hanya 3 persen, berbeda jauh dengan Sri Lanka.

Sri Lanka jatuh ke dalam krisis ekonomi yang akut, setelah sektor pariwisatanya ambruk karena pandemi dan upaya pemulihan ekonominya terganggu.

Dikutip dari Portal Informasi Indonesia, indonesia.go.id, Senin, 18 Juli 2022, keguncangan ekonomi itu sudah diduga. Para analis ekonomi pun telah memperkirakan bahwa Sri Lanka akan menghadapi problem ekonomi serius.

Survei yang dilakukan Bloomberg pada Juni lalu, sebelum belitan ekonomi itu berubah menjadi krisis politik, menyebutkan bahwa para analis yang menjadi narasumbernya menduga bahwa negara tersebut akan mengalami problem berat.

Dalam survei Bloomberg itu, para analis hanya menyampaikan sejumlah indikator ekonomi makro dari berbagai negara yang kemudian diolah dalam model statistik.

Model yang dikembangkan oleh Bloomberg itu kemudian memberikan angka peluang (probabilitas) kejadian  pertumbuhan negatif  pada produk domestik bruto (PDB) jangka dua kuartal atau lebih alias resesi pada 2023.

Hasilnya, model statistik itu menyebutkan bahwa dengan probabilitas 85 persen, Sri Lanka akan dilanda resesi pada 2023.

Perkiraan resesi itu melonjak tinggi dari survei sebelumnya yang  menyebut probabilitas 33 persen.

Tapi, rupanya krisis politiknya mencapai puncaknya lebih cepat dan berujung pada pergantian pemerintahan di Sri Lanka.

Isu Sri Lanka itu tentu hanya satu bagian dari survei Bloomberg, yang diumumkan ke publik pada 6 Juli 2022.

Observasi lembaga keuangan dan media berskala global itu menyoroti negara-negara Asia dan Pasifik Barat, yang selama ini menunjukkan ketahanan ekonomi yang relatif lebih tangguh dibanding negara-negara di Benua Eropa dan Amerika,  dalam menghadapi pandemi, inflasi global, dan guncangan geopolitik dari Ukraina itu.

Ihwal hasil survei Bloomberg itu sempat disinggung oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam konferensi persnya di Nusa Dua, Bali, pada Rabu, 13 Juli 2021, di sela-sela acara Pertemuan Ketiga Finance Minister and Central Bank Governor (FMCBG), dalam kerangka G20.

“Indonesia termasuk daftar 15 negara yang berpotensi mengalami resesi berdasarkan survei Bloomberg,” ujarnya.

Menurut survei itu, kata Sri Mulyani, probabilitas terbesar yakni 85 persen adalah Sri Lanka.