KIRKA – Jurnalis perempuan setelah pandemi Covid-19 diharapkan bisa mengubah cara pandang dan cara bekerja dalam melakukan tugas-tugas jurnalistik.
“Bekerja dari mana saja, menggantikan bekerja dari kantor, berkah atau beban?” Kata Redaktur Senior Harian Kompas, Ninuk Mardiana Pembudy.
Baca Juga : Jurnalis Perempuan Mengalami Beban Ganda di Masa Pandemi
Hal itu disampai dalam webinar “Sharing Strategi dan Kondisi Jurnalis Perempuan di Masa Pandemi” yang digelar Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) pada Sabtu, 25 Juni 2022.
Pada kesempatan tersebut, FJPI memaparkan hasil survei terhadap jurnalis perempuan yang menghadapi sejumlah tantangan perubahan aktivitas jurnalistik yang signifikan di masa pandemi Covid-19.
“Hasil survei FJPI mengonfirmasi lebih spesifik tentang perempuan jurnalis. Alieanasi dari dunia nyata, masuk dalam dunia virtual dimana batas jam kerja menjadi samar dan menambah beban psikologi dan fisik,” ujar Ninuk.
Jurnalis perempuan, lanjut dia, mengalami tantangan selama pandemi Covid-19 terkait isu verifikasi informasi dan data lapangan.
“Data UN Women, McKinsey, dan Komnas Perempuan mengonfirmasi beban ganda perempuan dan naiknya angka kekerasan dalam rumah tangga,” jelas Ninuk.
Jurnalis perempuan yang bertahan di masa pandemi Covid-19 diminta untuk bersuara, dan membangun solidaritas.
“Peluang mengubah ruang redaksi menjadi lebih setara dan meningkatkan perhatian Dewan Pers atas isu kesejahteraan perempuan jurnalis,” kata dia.
Perempuan Indonesia Menopang Perekonomian
Webinar yang diselenggarakan FJPI terselenggara berkat kerja sama dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA).
Asisten Deputi Peningkatan Partisipasi Lembaga Profesi dan Dunia Usaha Kementerian PPPA, Eko Novi ARD, menyampaikan dari 270 juta jiwa lebih penduduk Indonesia (tahun 2020) 49,42 persennya adalah perempuan dan 50,58 persen laki-laki.
“Dimana 30 persennya adalah anak dengan jumlah keluarga sebanyak 81,2 juta,” kata Eko dalam pemaparannya.
Dia mengutip pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani yang menyebutkan sebagian besar perekonomian Indonesia ditopang oleh perempuan yang bergerak di bidang UMKM.
Namun pandemi Covid-19 berdampak pada perempuan wirausaha.
“Data UN Women menyebutkan sebanyak 86 persen wirausaha perempuan terdampak negatif, sebanyak 77 persen menjual lebih sedikit produk dan jasa, kemudian 34 persen menyatakan akan segera menutup usahanya,” jelas Eko Novi.
Survei Kementerian PPPA pada Agustus 2020 menyebutkan bahwa persentase anak perempuan dengan gejala-gejala yang mengarah pada gangguan depresi, lebih tinggi dibandingkan dengan anak laki-laki.
Baca Juga : AJI Bandar Lampung Soroti Kasus Kekerasan Jurnalis
Eko Novi mengatakan dukungan Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) sangat strategis dalam perjuangan mencapai kesetaraan.
“Perempuan merupakan advokat terbaik bagi isu-isu yang melingkupinya. Sementara jurnalis merupakan garda terdepan penyampaian informasi publik yang mampu menanamkan wawasan baru dan mengikis pikiran-pikiran patriarki,” ujar dia.






