Fokus Gulat Pantai, Dadang Riswa: PGSI Lampung Butuh Pelatih Berkualitas

Fokus Gulat Pantai, Dadang Riswa: PGSI Lampung Butuh Pelatih Berkualitas
Tim Gulat Pantai PGSI Lampung dalam sesi latihan dan foto bersama. Foto: Arsip Istimewa/Kirka/I

Kirka – Nomor gulat pantai (beach wrestling) kini menjadi primadona baru yang dibidik Pengprov Persatuan Gulat Seluruh Indonesia (PGSI) Lampung untuk mendulang medali.

Namun, ambisi menguasai nomor anyar di Pekan Olahraga Nasional (PON) ini dinilai akan sia-sia jika tidak dibarengi dengan peningkatan kualitas sumber daya pelatih.

Peringatan tersebut dilontarkan tokoh gulat sekaligus Mantan Ketua PGSI Lampung era 90-an, Dadang Riswa Wahid, saat memantau langsung latihan teknik atlet di lapangan voli pasir kawasan PKOR Way Halim, Bandarlampung, belum lama ini.

Menurut Dadang, talenta atlet muda Lampung sangat potensial, namun mereka butuh tangan dingin pelatih yang tidak hanya mengerti teknik, tapi juga punya sertifikasi jelas.

“Pengprov harus mulai berpikir strategis. Cari pelatih berkualitas, kalau perlu datangkan yang bersertifikat nasional atau internasional untuk menggembleng pelatih kita.

“Dari pelatih yang hebat dan disiplin, akan lahir atlet militan yang pekerja keras,” tegas Dadang, dilansir pada Selasa,17 Februari 2026.

Ia menilai, momentum kehadiran nomor baru ini harus dimanfaatkan secepat mungkin.

Dadang mewanti-wanti agar pengurus tidak terjebak pola lama yang baru panas saat ajang besar sudah di depan mata.

“Latihan jangan menunggu PON sudah dekat. Saya yakin Lampung bisa kembali berjaya jika anak-anak digembleng rutin mulai sekarang.

“Ingat, hasil tidak akan mengkhianati usaha,” imbuhnya membakar semangat atlet.

Optimisme senior gulat tersebut bukan tanpa dasar.

Di lapangan, Pelatih Gulat Pengprov PGSI Lampung, Rina Safitri, membeberkan bukti ketajaman atlet Lampung di nomor ini.

Pada Kejuaraan Nasional (Kejurnas) di Rawamangun, Jakarta, baru-baru ini, Lampung mengirimkan tiga pegulat.

Hasilnya mengejutkan, ketiganya sukses menembus partai final dengan torehan dua medali emas dan satu perunggu.

“Potensinya sangat besar secara kuantitas maupun kualitas. Meski nomor baru, atlet kita terbukti mampu bersaing dan mendominasi,” ujar Rina.

Rina menjelaskan, karakteristik gulat pantai berbeda signifikan dengan nomor matras Greco-Roman atau Freestyle.

Duel ini lebih menitikberatkan kekuatan bahu dan pertarungan atas.

Aturannya pun ketat, jika lutut pegulat menyentuh pasir saat membanting, poin justru diberikan ke lawan.

Di sisi lain, Ketua Umum Pengprov PGSI Lampung, Maktub Djaiz, tak menampik adanya kendala infrastruktur.

Karena belum memiliki arena khusus gulat pasir, pihaknya harus memutar otak dengan menumpang latihan di lapangan voli pasir milik PBVSI Lampung.

“Karakteristiknya spesifik, jadi butuh tempat latihan pasir. Sementara ini kami komunikasi untuk menumpang, sepanjang tidak mengganggu jadwal voli pasir. Ke depan, kami berupaya keras agar PGSI punya sarana sendiri,” terang Maktub.

Meski dengan fasilitas terbatas, Maktub memastikan program latihan spesifik akan terus digenjot demi mematangkan persiapan menuju PON mendatang.