Kirka – Publik mungkin kadung lekat dengan citra jalan berlubang di Purbolinggo atau Jembatan Merah Putih yang sempat mangkrak.
Namun, di balik riuh rendah kritik netizen yang viral itu, Pemerhati Pembangunan Mahendra Utama menangkap sinyal pergerakan ekonomi yang berbeda di bawah kepemimpinan Bupati Ela Siti Nuryamah.
Bukan sekadar drama tambal sulam aspal, melainkan sebuah grand design yang menyasar jantung persoalan ekonomi daerah, hilirisasi.
Mahendra menyebut Lampung Timur memiliki paradoks menahun.
Daerah ini adalah raksasa tidur yang menyumbang hampir sepertiga kue ekonomi (PDRB) dari sektor pertanian dan perikanan, namun kerap tekor karena menjual komoditasnya secara mentah.
“Ada ironi di sini. Jagung, singkong, udang, kita punya semua. Tapi selama ini petani dipaksa rugi karena jual barang mentah.
“Nilai tambahnya terbang ke daerah lain, dinikmati pabrikan besar luar kota,” ungkap Mahendra, menyoroti akar masalah, Selasa, 17 Februari 2026.
Menggeser Kiblat
Bagi Mahendra, langkah Ela Nuryamah saat ini bukan sekadar respons reaktif, melainkan strategi ofensif.
Ia mencontohkan transformasi di Labuhan Maringgai. Di sana, nelayan tak lagi dibiarkan menjual ikan basah murah.
Melalui pelatihan fillet dan pengolahan, komoditas laut itu kini punya standar ekspor.
“Harganya melompat 3-4 kali lipat. Ini matematika sederhana yang berdampak makro. Bayangkan kalau pola ini diduplikasi ke jagung dan singkong di Marga Tiga.
“Pabrik tepung organik dan bioetanol lokal itu bukan cuma soal produk, tapi soal ribuan tenaga kerja yang terserap,” urai Mahendra.
Visi inilah yang menurutnya menjadi alasan optimisme target lonjakan PDRB hingga 7-10 persen tahun ini.
Kuncinya ada pada efek berganda, saat satu pabrik berdiri, sopir angkutan, pedagang pasar, hingga buruh harian ikut kenyang.
Logika Taktis Infrastruktur
Lantas, bagaimana dengan jalan rusak yang menjadi gorengan empuk media sosial?
Mahendra tidak menampik fakta lapangan tersebut.
Namun, ia mengajak publik melihat realitas anggaran. Dengan APBD yang terbatas, memimpikan seluruh jalan mulus dalam semalam adalah utopia.
“Ela main taktis, bukan populis,” tegas Mahendra.
Alih-alih menyebar anggaran tipis ke semua titik demi pencitraan, Pemkab fokus pada urat nadi ekonomi.
Jalan Lintas Timur yang menjadi jalur distribusi utama 70 persen komoditas, menjadi prioritas mati.
“Logikanya, kalau jalur backbone ini mulus, cost logistik turun drastis. Ditambah lagi, Ela cerdik menggandeng swasta untuk urusan cold chain dan melobi pusat untuk jalan provinsi.
“Prinsipnya 20 persen perbaikan di titik vital untuk 80 persen dampak ekonomi,” analisisnya.
Keamanan
Namun, Mahendra mengingatkan, semua peta jalan ekonomi itu akan mentah jika situasi lapangan panas.
Konflik lahan dan pencurian ternak adalah hantu bagi investor.
Di sinilah program Desa Damai Ekonomi yang melibatkan patroli gabungan TNI-Polri dan tokoh masyarakat menjadi pondasi.
“Investor itu punya insting pengecut, ada ribut sedikit mereka lari. Ela paham betul psikologi ini. Keamanan bukan cuma soal tidak ada maling, tapi kepastian iklim usaha,” cetusnya.
Di sisi lain, Mahendra menyebut Lampung Timur kini ada di persimpangan jalan, terus meratapi lubang jalan atau bergerak menjadi pusat agro-industri Sumatera.
“Biarlah nanti Lampung Timur viral lagi. Tapi kali ini bukan karena truk terperosok, melainkan karena ekspor fillet udang yang menembus pasar ASEAN. Itu warisan yang lebih nyata daripada sekadar janji politik,” pungkas Mahendra.






