Dominasi Rempah Lampung di Komoditas Nasional Indonesia

Dominasi Rempah Lampung di Komoditas Nasional Indonesia
Infografis: Mengupas dominasi rempah Lampung di komoditas nasional. Apresiasi setinggi-tingginya untuk para petani tangguh penggerak ekonomi dan devisa negara. Foto: Arsip Wiki/DBS/Kirka/I

Kirka – Di tengah dinamika pasar global, Provinsi Lampung terus memperkokoh posisinya sebagai salah satu pilar utama penghasil komoditas rempah di Indonesia.

Lada hitam, cengkeh, dan pala dari Bumi Ruwa Jurai dinilai bukan sekadar komoditas warisan leluhur, melainkan mesin penggerak ekonomi daerah yang vital.

Pemerhati Pembangunan asal Lampung, Mahendra Utama, menegaskan bahwa Lampung memiliki posisi strategis di tatanan nasional yang harus terus dioptimalkan.

Menurutnya, Lampung merupakan powerhouse rempah Nusantara yang berkontribusi besar dalam menjaga stabilitas produksi nasional.

“Merujuk pada data Outlook Komoditas Lada 2025 dari Kementerian Pertanian, Lampung menyumbang sekitar 20,71 persen produksi lada nasional rata-rata selama 2021-2025.

“Ini menempatkan kita sebagai produsen terbesar kedua setelah Bangka Belitung,” ujar Mahendra Utama di Bandarlampung, Jumat, 27 Februari 2026.

Mahendra yang juga menjabat sebagai Tim Percepatan Pembangunan (TPP) Gubernur Lampung Bidang Perindag ini menjelaskan, produksi lada nasional diproyeksikan menembus 63.461 ton pada tahun 2025.

Lampung memiliki andil besar dalam menjaga kestabilan ini dari tantangan fluktuasi harga global.

Selain lada, komoditas cengkeh dan pala Lampung juga menunjukkan tajinya.

Indonesia saat ini menguasai lebih dari 70 persen pangsa pasar cengkeh dunia, dengan dukungan dari perkebunan rakyat di wilayah selatan Lampung.

Sementara untuk pala, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029 mencatat Lampung menempati posisi kedua nasional.

“Bayangkan, dari Lampung Black Pepper hingga cengkeh dan pala yang diekspor ke Eropa dan Asia, provinsi ini adalah tulang punggung sunrise industry rempah nasional,” tegas eksponen 98 tersebut.

Peta Kekuatan

Secara pemetaan wilayah, Mahendra membeberkan bahwa setiap kabupaten di Lampung memiliki keunggulan komoditas spesifik yang menjadi motor penggerak.

Kabupaten Waykanan dan Lampung Timur, misalnya, dikenal sebagai sentra utama lada hitam dengan hamparan lahan dan produktivitas tinggi.

“Di Waykanan dan Lampung Timur, para petani telah membangun ekosistem lestari yang menghasilkan lada kualitas ekspor,” jelasnya.

Untuk komoditas cengkeh, Kabupaten Lampung Selatan masih menjadi pionir yang menyumbang volume signifikan secara nasional, meneruskan sejarah panjang proyek pengembangan cengkeh sejak era Orde Baru.

Sementara itu, Kabupaten Tanggamus dan Lampung Barat memegang predikat sebagai raja pala dengan kualitas yang menembus pasar internasional.

Ekonomi dan Dorongan

Menganalisis fenomena ini, Mahendra menggunakan pendekatan Teori Berlian Porter (Porter’s Diamond Theory).

Menurutnya, keunggulan kompetitif rempah Lampung tercipta berkat kolaborasi kondisi iklim yang ideal, permintaan domestik yang stabil, industri pendukung, dan rantai pasok yang kuat.

“Prinsip dasar ekonomi pertanian menunjukkan bahwa fluktuasi harga bisa dikelola dengan baik jika kita melakukan diversifikasi dan hilirisasi.

“Misalnya, mengolah lada mentah menjadi oleoresin yang memiliki nilai jual jauh lebih tinggi,” papar pria yang juga menjabat sebagai Komisaris Utama PT Deli Megapolitan Kawasan Bisnis tersebut.

Pandangan ini sejalan dengan komitmen pemerintah pusat dan daerah.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, sebelumnya telah menegaskan komitmen kuat pemerintah untuk mengembalikan kejayaan rempah Indonesia sebagai sunrise industry dan sumber devisa baru melalui hilirisasi.

Di tingkat daerah, Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, juga terus mendorong kesejahteraan petani.

“Lampung adalah provinsi pangan dengan 1,2 juta hektare lahan pertanian yang dikelola langsung oleh petani. Kita harus hilirisasi untuk kesejahteraan,” ujar Gubernur Djausal dalam berbagai kesempatan resminya.

Pesan untuk Petani

Di akhir, tak lupa Mahendra Utama memberikan pesan dan apresiasi khusus kepada para pahlawan pangan, khususnya petani rempah di Lampung, yang terus berjuang di tengah ketidakmenentuan cuaca dan harga.

Ia mengakui ada penurunan produksi lada dari 15.200 ton (2021) menjadi 13.900 ton (2023), namun hal tersebut harus dilihat sebagai momentum untuk bangkit.

Ia memberikan tiga insight utama bagi para petani:

  1. Diversifikasi Tanaman: Menggabungkan komoditas lada dengan cengkeh atau pala untuk menjaga stabilitas pendapatan harian.
  2. Adopsi Teknologi: Memanfaatkan pupuk organik dan sistem irigasi modern guna meningkatkan produktivitas lahan.
  3. Penguatan Koperasi: Bergabung dengan koperasi atau kelompok tani untuk memutus mata rantai tengkulak dan membuka akses langsung ke pasar ekspor.

“Petani lada di Waykanan, pengolah cengkeh di Lampung Selatan, dan penjaga pala di Tanggamus adalah pahlawan tanpa tanda jasa.

“Tetap semangat, karena pemerintah terus mendukung program hilirisasi. Kalian bukan sekadar petani, melainkan arsitek masa depan ekonomi Lampung,” pungkas eks Komisaris PT Mitratani Dua Tujuh ini.