Bank Dunia Keliru! Ekonomi Indonesia Melesat 5,4 Persen di Bawah Kepemimpinan Prabowo

Bank Dunia Keliru! Ekonomi Indonesia Melesat 5,4 Persen di Bawah Kepemimpinan Prabowo
Ilustrasi - Grafik pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diprediksi tembus 5,4 persen, menepis analisis Bank Dunia terkait middle-income trap. Foto: Ariso DBS/Kirka/I

Kirka – Label middle-income trap atau jebakan pendapatan menengah yang disematkan Bank Dunia kepada Indonesia dinilai prematur dan tidak berdasar.

Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menyebut analisis lembaga donor tersebut abai terhadap fundamental ekonomi nasional yang justru mencatatkan tren impresif di awal kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

Mahendra menantang pesimisme Bank Dunia dengan menyodorkan data pembanding.

Merujuk laporan International Monetary Fund (IMF), Indonesia justru diposisikan sebagai global bright spot atau titik terang ekonomi dunia.

Proyeksi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) yang dipatok stabil di angka 5,1 persen sepanjang 2025-2026 menjadi antitesis atas klaim stagnasi produktivitas.

“Ada distorsi dalam pembacaan data mereka. Faktanya, Reuters mencatat kita tumbuh 5,11 persen pada 2025 di saat ekonomi global sedang terkontraksi.

“Ini bukan sekadar angka statistik, tapi bukti resiliensi yang konkret,” tegas Mahendra, Rabu, 11 dan 2026

MBG

Katalis utama pertumbuhan ini, menurut Mahendra, tidak lepas dari efek berganda (multiplier effect) kebijakan domestik.

Ia mencontohkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terbukti bekerja melampaui sekadar jaring pengaman sosial.

Data Antara News mengonfirmasi program ini memicu lonjakan konsumsi rumah tangga hingga 5,39 persen pada kuartal IV-2025.

Tak hanya itu, penyerapan satu juta tenaga kerja baru lewat program tersebut secara langsung membantah tudingan lambatnya reformasi struktural.

“Itu validasi empiris dari teori pertumbuhan endogen Paul Romer. Kita memperkuat SDM sekaligus mendongkrak daya beli.

“Jadi klaim iklim investasi kurang kondusif itu terbantahkan oleh geliat riil di pasar domestik,” paparnya.

Harmonisasi

Mahendra juga menyoroti orkestrasi kebijakan yang solid antara otoritas fiskal dan moneter.

Manuver Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menggelontorkan stimulus Rp16,2 triliun serta optimalisasi dana abadi Danantara dengan target investasi Rp14 miliar, dinilai sukses menjaga likuiditas pasar.

Langkah itu gayung bersambut dengan kebijakan akomodatif Bank Indonesia.

Pemangkasan suku bunga acuan sebesar 125 basis poin sepanjang 2025, ditambah inflasi yang terkunci aman di level 2,5 persen, memberikan ruang napas luas bagi sektor riil untuk berekspansi.

Dengan deretan indikator makro tersebut, Mahendra optimistis proyeksi pertumbuhan 5,4 hingga 6 persen versi Fulcrum pada 2026 bukan hal mustahil.

Peta jalan menuju pertumbuhan 8 persen di 2029 dinilai semakin on the track.

“Kita sedang dalam fase akselerasi, bukan stagnasi. Bank Dunia perlu memperbarui kacamata analisisnya karena Indonesia sedang melaju, bukan terjebak,” pungkas Mahendra.