Kirka – Status Siaga 1 yang ditetapkan oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) di tengah dinamika global saat ini dinilai memiliki hubungan yang sangat logis dan erat dengan seruan persatuan nasional yang digaungkan oleh Ketua Harian DPP Partai Gerindra, Prof. Sufmi Dasco Ahmad.
Pemerhati Pembangunan sekaligus Eksponen 98, Mahendra Utama, menegaskan bahwa kedua peristiwa tersebut bukanlah sebuah kebetulan, melainkan respons simultan negara dalam membentengi diri dari ancaman eksternal.
“Jika kita bedah melalui Teori Keamanan Komprehensif dari Barry Buzan, seruan persatuan dari dimensi sosial-politik dan peningkatan status Siaga 1 TNI di dimensi militer adalah dua sisi mata uang yang sama,” ungkap Mahendra Utama, Senin, 9 Maret 2026.
Menurut Mahendra, keamanan sebuah negara tidak bisa hanya diukur dari kekuatan militer, tetapi juga dari kerentanan di sektor politik, sosial, dan ekonomi.
Terlebih saat terjadi eskalasi konflik global yang memicu spillover effect (efek rambatan), seluruh sektor di Tanah Air ikut terancam.
“TNI dengan status Siaga 1-nya adalah benteng pertahanan fisik.
“Sementara seruan persatuan nasional adalah upaya krusial untuk memperkuat benteng sosial politik agar masyarakat kita tidak mudah dipecah belah oleh isu-isu luar,” terangnya.
Perisai dan Daya Tawar
Lebih lanjut, Mahendra menyoroti eratnya kaitan kedua hal tersebut dengan konsep deterrence (pencegahan) dan daya tawar diplomasi internasional Indonesia.
Ia menyebut persatuan nasional merupakan perisai utama bagi langkah diplomasi Presiden Prabowo Subianto.
Kekuatan diplomasi suatu negara sangat bergantung pada soliditas di dalam negerinya.
Status Siaga 1 TNI mengirimkan sinyal kewaspadaan fisik, sementara seruan tokoh seperti Sufmi Dasco mengirimkan sinyal kewaspadaan politik.
“Pesan yang ingin disampaikan adalah Indonesia tidak dalam posisi terpecah yang bisa dieksploitasi.
“Ini adalah sinyal pencegahan agar pihak luar berpikir dua kali jika ingin membawa dampak konflik ke Indonesia, atau mencoba melemahkan posisi tawar kita di forum global,” urai Mahendra.
Domestik dan Internasional
Secara kasat mata, korelasi ini juga terlihat dari fakta di lapangan.
Seruan Sufmi Dasco lahir dari pembacaan atas ruang publik yang belakangan sarat friksi dan skeptisisme destruktif.
Hal itu sejalan dengan poin kelima Telegram Panglima TNI yang secara eksplisit memerintahkan jajarannya untuk mengantisipasi kelompok-kelompok yang berpotensi memanfaatkan situasi untuk memecah belah bangsa.
Mahendra membandingkan strategi tersebut dengan negara-negara yang tengah menghadapi tekanan geopolitik.
Ia mencontohkan Korea Selatan yang kerap menyerukan persatuan rakyatnya saat meningkatkan siaga militer di Semenanjung Korea, serta Ukraina yang menjadikan persatuan nasional sebagai senjata utama melawan invasi.
“Menghadapi badai geopolitik, pendekatan whole of nation atau pelibatan seluruh komponen bangsa adalah sebuah keharusan, bukan lagi sekadar pilihan,” tegas sosok yang juga aktif mengamati dinamika pembangunan daerah ini.
Sebagai kesimpulan, Mahendra menilai meski tidak ada hubungan kausalitas (sebab-akibat) langsung antara pernyataan Dasco dan instruksi Panglima TNI, keduanya memiliki ikatan fungsional yang sangat kuat.
“Keduanya adalah respons pertahanan. Seruan persatuan adalah soft power dari aspek sosial-politik, dan Siaga 1 adalah hard power dari militer.
“Tujuannya satu,menjaga kedaulatan dan stabilitas Indonesia di tengah badai geopolitik,” pungkasnya.






