Anies Baswedan Bilang Angin Bergerak ke Arah Lampung Tidak Ada Alat Monitor, Cek 5 Fakta Berikut?

Anies Baswedan Bilang Angin Bergerak ke Arah Lampung Tidak Ada Alat Monitor
Debat antara Capres 02 Prabowo Subianto dengan Anies Baswedan. (Ilustrasi)

KIRKA Anies Baswedan bilang angin bergerak ke arah Lampung dan Jawa tidak ada alat monitor.

Pernyataan calon presiden yang diusung Partai NasDem, PKB dan PKS buat ratusan penonton tertawa.

Sontak, debat Capres 2024 yang digelar KPU RI kian panas dengan drama yang terjadi.

Muncul suara tertawa yang menggema tersebut lantaran jawaban Anies Baswedan mengarah pada penanganan Covid.

Hal ini sempat diluruskan oleh Prabowo Subianto yang menyebut pertanyaannya bukan Covid tapi penanggulangan polusi di DKI Jakarta semasa Anies duduk sebagai Gubernur.

“Mas Anies, bagaimana dengan anggaran Rp 80 T, Pak Anies sebagai gubernur tidak dapat berbuat sesuatu yang berarti untuk mengurangi polusi Jakarta? Tanya Prabowo.

Polusi udara di DKI Jakarta saat Anies Baswedan memimpin masuk dalam indeks kota terpolusi di dunia.

Padahal, kata dia, jika dilihat dari data jumlah penduduk, Jakarta sekitar 10 juta orang, jauh dibandingkan Jawa Barat yang mencapai 30 juta orang.

Nah, usai menyimak pertanyaan Prabowo, Anies langsung memberikan jawaban.

“Pak Prabowo terima kasih atas pertanyaannya yang bagus tapi kurang akurat,” kata Anies.

Lalu Anies menjawab, “Ketika suatu daerah tidak mempunyai Covid, lalu kami tanya mengapa tidak ada Covid, jawabannya karena tidak punya alat testing pak,” sebut Anies.

Belum usai dengan kata-katanya, Prabowo langsung menyanggah.

“Pertanyaannya polusi bukan Covid,” timpal Ketua Umum Partai Gerindra tersebut.

Suasana arena debat Capres 2024 mendadak terhenyak. Mata penonton terus tertuju pada kedua capres yang saling berhadapan di podium utama.

Lantaran disanggah, Anies pun langsung berkemas.

Ia menyiapkan jawaban lain dengan lantunan kata-kata spontan. “Boleh saya selesaikan dulu,” kata dia.

“Jadi apa yang terjadi di Jakarta kami memasang alat pemantau udara. Jadi ada hari dimana kita bersih dimana kita kotor, ada masa minggu pagi, Jagakarsa sangat kotor. Apa yang terjadi polusi udara tak punya KTP,” kilah Anies.

“Angin tak ada KTP-nya. Angin itu bergerak dari sana-sini.”

“Ketika polutan yang muncul dari pembangkit listrik tenaga tenaga uap mengalir ke Jakarta, maka Jakarta punya indikator ada polusi udara,” beber pria berkacamata dan mengenakan kopiah itu.

“Ketika angin ya bergerak ke arah Lampung ke arah Sumatera ke arah laut Jawa tidak ada alat monitor, maka tidak muncul.”

“Kalau problemnnya dalam kota saja konsisten tiap waktu ya kita punya masalah polusi, ya itu kita kerjakan untuk mengangani polusi Jakarta” kata dia.

Setelah Anies Baswedan menjelaskan panjang lebar dengan gaya bicaranya yang khas, selanjutnya giliran Prabowo yang diberikan waktu untuk memberikan tanggapan.

“Ya susah kalau kita menyalahkan angin dari mana saja.”

“Jadi saya bertanya, dengan anggaran segitu besar, langkah-langkah yang bisa dilakukan dengan ril mengurangi polusi,” tandasnya.

Dimana, lanjut Prabowo, rakyat Jakarta, bayak yang mengalami sakit pernapasan.

“Kalau kita dengan gampang menyalahkan angin hujan ya tak perlu pemerintahan kalau begitu,” tandas Prabowo Subianto.

Cek 5 Fakta Berikut:

Pemerintah Indonesia memiliki alat pemantau kualitas udara, berikut ini penjelasannya:

1. KLHK:

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melakukan pemantauan udara di Jakarta menggunakan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU).

2. ISPU:

ISPU merupakan angka tanpa satuan yang digunakan untuk menggambarkan kondisi mutu udara ambien di lokasi tertentu.

3. Aturan Menteri:

Pada tahun 2020, KLHK telah mengeluarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 14 tahun 2020 tentang Indeks Standar Pencemar Udara.

4. SPKU:

Di DKI Jakarta terdapat tiga peralatan pemantau kualitas udara baru bertaraf reference-grade dan pemutakhiran peralatan di empat lokasi Stasiun Pemantauan Kualitas Udara (SPKU).

5. Kemitraan:

Peralatan tersebut merupakan hasil dari kemitraan strategis antara Pemprov DKI Jakarta dengan World Resources Institute (WRI) Indonesia di bawah program Clean Air Catalyst (CAC) sejak era Gubernur Joko Widodo.

Pemantau kualitas udara

Dengan demikian, Pemerintah Indonesia memiliki alat pemantau kualitas udara untuk beberapa daerah.

Di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi, pemerintah Indonesia terus berupaya meningkatkan sistem pemantauan udara.

Langkah ini untuk memberikan data yang lebih akurat terkait kualitas udara di setiap titik tertentu.

Fungsinya guna mendeteksi situasi alam jika terjadi adanya kebakaran hutan, letusan gunung merapi hingga cuaca terkini yang dipantau langsung oleh BMKG.