Kirka – Pertumbuhan ekonomi Provinsi Lampung pada Triwulan I-2026 mencatatkan angka impresif sebesar 5,58 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Capaian ini menjadi anomali positif di tengah fluktuasi ekonomi global, sekaligus menempatkan Lampung sebagai mesin pertumbuhan tertinggi kedua di Pulau Sumatera, tepat di bawah Kepulauan Riau.
Pemerhati Pembangunan sekaligus Tim Percepatan Pembangunan (TPP) Gubernur Lampung Bidang Perindustrian dan Perdagangan, Mahendra Utama, menilai lonjakan bukanlah sekadar kebetulan atau deretan angka di atas kertas Badan Pusat Statistik (BPS).
Menurut Mahendra, capaian tersebut adalah buah manis dari konsistensi pemerintah daerah dalam mengeksekusi program hilirisasi pertanian.
“Secara teoretis, pertumbuhan mengonfirmasi Teori Pertumbuhan Endogen. Di mana investasi pada modal manusia dan inovasi teknologi menjadi penggerak utama.
“Di Lampung, manifestasinya sangat jelas pada intervensi teknologi pascapanen yang didorong oleh pemerintah,” ujar Mahendra, Kamis, 7 Mei 2026.
Eksponen aktivis 98 ini menyoroti secara khusus langkah strategis Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, dalam mengawal langsung distribusi bantuan alat pengering (bed dryer).
Bantuan yang ditujukan bagi petani padi, jagung, dan ubi kayu tersebut dinilai sebagai kunci penguatan ekonomi di tingkat tapak.
“Teknologi itu memotong rantai kerugian petani akibat cuaca buruk. Kualitas gabah dan singkong meningkat, yang pada akhirnya memperkuat Nilai Tukar Petani (NTP).
“Saat mutu bahan baku naik, industri pengolahan bergerak, dan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) otomatis terkerek,” paparnya.
Lebih lanjut, Mahendra menjelaskan bahwa keberhasilan Lampung menempati posisi runner up di Sumatera membuktikan adanya sinergi yang matang antara kebijakan makro dan eksekusi mikro di lapangan.
Gaya kepemimpinan Gubernur Mirza dinilai mampu menjaga orkestrasi antara Organisasi Perangkat Daerah (OPD), khususnya Dinas Perindustrian dan Perdagangan, dengan tim akselerasi pembangunan.
Hal tersebut sejalan dengan pandangan Bank Indonesia yang menekankan bahwa ketahanan ekonomi daerah sangat bergantung pada kemampuan domestik mengolah komoditas unggulan menjadi produk bernilai tambah.
“Lampung sedang melakukan transformasi itu. Kita tidak lagi sekadar mengirim bahan mentah ke luar daerah, tetapi mulai memperkuat struktur industri manufaktur berbasis agro,” tegas Mahendra.
Meski mencatatkan tren yang sangat positif, Mahendra mengingatkan bahwa mempertahankan angka pertumbuhan 5,58 persen akan jauh lebih menantang.
Pekerjaan rumah terbesarnya adalah memastikan pemerataan ekonomi yang inklusif.
“Tantangannya adalah transformasi digital di pedesaan dan konektivitas infrastruktur.
“Jalan raya dan jembatan di sentra-sentra produksi harus terus dipacu agar biaya logistik tetap rendah,” katanya.
Mahendra jug mengapresiasi langkah Gubernur Mirza yang kerap turun langsung melakukan monitoring dan evaluasi (monev) ke berbagai pelosok daerah, dari Lampung Selatan hingga Lampung Utara.
Menurutnya, pendekatan teknokratis memberikan sinyal positif bagi iklim investasi.
“Capaian Triwulan I-2026 adalah kado bagi masyarakat.
“Dengan visi hilirisasi yang kuat dan tim teknis yang solid, Lampung kini bertransformasi dari sekadar lumbung pangan menjadi pusat industri agro yang disegani secara nasional,” tutupnya.






